Mahasiswa Samarinda melakukan aksi bakar ban di depan kantor Gubernur Kaltim. (Foto: Humas Pemprov Kaltim)
KALTIM - Kepemimpinan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, dan Wakil Gubernur Seno Aji kini berada di bawah tekanan besar.
Gelombang protes yang dipicu oleh keresahan atas tata kelola pemerintahan diprediksi akan meledak pada aksi demonstrasi akbar yang dijadwalkan berlangsung pada 21 April 2026 mendatang di Kantor Gubernur dan DPRD Kaltim.
Hingga pekan ini, tercatat sedikitnya 4.075 orang telah mendaftarkan diri melalui dua posko koordinasi di Samarinda untuk ikut serta dalam aksi tersebut.
Angka ini mencakup berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, buruh, hingga organisasi kemasyarakatan yang merasa kebijakan daerah saat ini sudah tidak lagi berpihak pada kepentingan publik.
Koordinator Aliansi Perjuangan Masyarakat Kaltim, Erly Sopiansyah, menegaskan bahwa angka peserta sangat mungkin terus membengkak.
"Sampai saat ini yang masuk data ada 4.075 orang. Kami masih mematangkan rencana aksi hingga sepekan ke depan,” ungkapnya sebagaimana dilansir melalui laporan Bontang Post.
Baca juga: Membongkar Perbedaan Dua Range Rover Gubernur Kaltim
Isu sentral yang dibawa oleh aliansi adalah dugaan kuat praktik nepotisme dan pembangunan dinasti kekuasaan di tubuh pemerintahan Kalimantan Timur.
Kondisi ini dinilai merusak integritas sistem birokrasi dan menutup peluang bagi tata kelola yang transparan.
"Yang kami suarakan adalah penghentian nepotisme. Karena itu akar dari berbagai persoalan, termasuk potensi korupsi,” tegas Erly.
Selain melakukan aksi jalanan, aliansi juga mengambil langkah berani dengan mengirimkan surat resmi kepada Presiden Republik Indonesia guna meminta intervensi pusat terhadap dugaan penyalahgunaan wewenang di Kaltim.
Baca juga: Gunakan Mobil Pribadi untuk Tugas Negara, Ini Alasan Range Rover Gubernur Tetap Terpasang Pelat KT 1
Dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari sektor informal. Aliansi Mitra Kaltim Bersatu, yang mewadahi para pengemudi ojek online (ojol), menyatakan akan terlibat aktif karena merasakan langsung dampak pelemahan ekonomi akibat kebijakan yang dinilai kontroversial.
Koordinator Aliansi Mitra Kaltim Bersatu, Lukman, menyebut bahwa dugaan praktik nepotisme sangat merugikan masyarakat luas di lapangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: