KALTIM - Laporan dari media lokal BEKESAH.co mengungkap fakta menarik dari operasional hotel-hotel di Bontang yang kerap disebut hotel "tanpa bintang" atau null stern.
Alih-alih mendapatkan keuntungan, para pengelola justru harus menghadapi kerugian finansial akibat ulah sejumlah tamu nakal.
Menurut laporan dari media itu, salah satu masalah terbesar yang dihadapi adalah banyaknya tamu yang tidak membayar biaya menginap.
Sebagai jaminan, mereka meninggalkan identitas seperti KTP dan SIM.
Namun, ironisnya, sebagian besar identitas tersebut tidak pernah diambil kembali.
Baca juga: Wanita PSK Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Kamar Wisma Sidrap, Diduga Dibunuh Pelanggan
Syamsiah (54), seorang resepsionis Hotel Borneo yang berlokasi di Jalan Sultan Hasanudin, mengungkapkan pengalamannya kepada BEKESAH.co.
Ia menceritakan, tumpukan KTP dan SIM milik tamu yang tak kunjung diambil menjadi pemandangan sehari-hari di meja resepsionis.
"Sampai-sampai menumpuk KTP dan SIM orang yang kami simpan. Tidak diambil-ambil sama orangnya," ujar Syamsiah pada Kamis (4/9/2025).
Selain tidak membayar, sebagian tamu juga merusak fasilitas kamar, mulai dari televisi hingga toilet.
Syamsiah menegaskan bahwa pihak hotel langsung meminta ganti rugi atas kerusakan tersebut.
Baca juga: Pria Tak Dikenal Ditemukan Meninggal di Kamar Kos Kosong, Polisi Selidiki Penyebabnya
Syamsiah, yang sudah 15 tahun bekerja di industri perhotelan, menampik stigma masyarakat yang menganggap pemilik hotel selalu bergelimang harta.
Menurutnya, mengelola hotel penuh tantangan dan belum tentu mendatangkan keuntungan.
"Belum tentu orang yang punya hotel itu kaya, karena saya sudah merasakan perjuangan bersama bos saya dari tahun 2015," ungkapnya.
"Kalau cuma punya hotel belum tentu bisa untung terus. Karena makannya juga dari sini, gaji karyawan dari sini. Jadi menurut saya pemilik hotel yang jadi kaya itu pasti punya usaha lain selain punya hotel," imbuhnya.
Pendapat serupa juga datang dari Syafira Marwa (24), pengelola sekaligus cucu pendiri Hotel Akbar di Jalan Imam Bonjol.
Sebagai pengusaha muda, ia setuju bahwa stigma masyarakat bisa disikapi secara positif, namun realitanya, keuntungan bersih tidak selalu didapatkan.
Baca juga: Kisah Mistis Kamar Kos Angker di Jogja: Ada Bau Melati dan Tangisan Wanita Tengah Malam
"Namanya uang selalu berputar terus. Di luar memang kelihatan kaya, tapi di dalam itu rumit. Karena ada manajemen, strategi, dan evaluasi yang sangat panjang," kata Syafira.
Ia menambahkan, meski bisnis perhotelan memiliki banyak risiko, hasil yang didapat tetap sepadan.
Namun, hal itu hanya bisa terwujud dengan manajemen keuangan yang baik agar hotel dapat terus berjalan.
"Di sini tetap membutuhkan manajemen keuangan yang lebih baik agar hotel bisa terus berjalan sampai seterusnya," tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bekesah.co