KALTIM - Menelusuri akar identitas Kalimantan Timur tidak akan lengkap tanpa memahami riwayat panjang berdirinya Kota Samarinda.
Ibu kota Provinsi Kaltim yang diperingati hari jadinya setiap tanggal 21 Januari ini, ternyata menyimpan ikatan historis yang sangat kuat dengan kisah eksodus pendatang dari Sulawesi Selatan pada abad ke-17.
Eksodus Suku Bugis Wajo ke Tanah Kutai
Berdasarkan catatan sejarah resmi Pemerintah Kota Samarinda yang bersumber dari manuskrip lokal (Salasilah Kutai), berdirinya kota ini bermula dari kedatangan para pengungsi suku Bugis dari Kerajaan Wajo.
Rombongan tersebut dipimpin oleh tokoh karismatik bernama La Mohang Daeng Mangkona.
Mereka meninggalkan tanah kelahiran akibat konflik politik pasca-perjanjian Bungaya.
Atas kebijakan dan izin dari Penguasa Kesultanan Kutai Kartanegara pada masa itu, Sultan Adil Pangeran Dipati Anum, para pendatang ini diberikan hamparan tanah untuk bermukim di kawasan yang kini dikenal sebagai Samarinda Seberang.
Momentum pembukaan pemukiman pada 21 Januari 1668 inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Samarinda melalui Peraturan Daerah (Perda) Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor 1 Tahun 1988.
Baca juga: Intip Tarif Tiket Terbaru Jungle Water World Samarinda dan Eksotisme Pulau Kumala Tenggarong
Etimologi 'Sama Rendah' di Atas Sungai Mahakam
Merujuk pada kajian etimologi yang dirilis dalam dokumentasi sejarah Dinas Kebudayaan Kota Samarinda, asal mula nama "Samarinda" berakar dari frasa "Sama Rendah".
Istilah tersebut merujuk langsung pada struktur arsitektur rumah rakit tradisional (lanting) milik para pendatang Bugis yang dibangun terapung di tepian Sungai Mahakam.
Rumah-rumah rakit di pemukiman awal tersebut sengaja dibangun dengan tinggi bangunan yang seragam atau sama rata.
Gejala visual di mana permukaan lantai rumah-rumah rakit tersebut tampak "sama rendah" dengan permukaan air Mahakam menjadi cikal bakal penamaan kawasan ini.
Baca juga: Sejarah Kota Samarinda, Ternyata Berawal dari Kisah Bugis Wajo yang Hijrah Usai Perang Gowa
Filosofi Keadilan Sosial dan Kesetaraan
Lebih dari sekadar urusan bentuk fisik bangunan, para sejarawan lokal Kaltim mencatat bahwa filosofi "Sama Rendah" ini mencerminkan tatanan sosial masyarakat yang sangat mendalam:
Nilai kesetaraan derajat, kebersamaan yang kokoh, dan penegakan keadilan tanpa memandang sekat-sekat kasta antara pendatang dan penduduk asli.
Perpaduan antara kearifan lokal Kesultanan Kutai dan prinsip kesetaraan yang dibawa oleh rombongan Bugis Wajo inilah yang hingga kini terus hidup menjadi fondasi toleransi dan karakter heterogen Kota Tepian.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber