Sabtu, 27 JUNI 2026 • 13:14 WIB

Kombinasikan Dayak dan Kutai, Ini Filosofi di Balik Seni Tari Kolosal Kaltim

Author

Salah satu kurator cipta karya tari kolosal, Agus Setiaji. (Foto: Teguh/Humas Pemprov Kaltim)
KALTIM -
Kehidupan masyarakat Kalimantan Timur yang tidak dapat dipisahkan dari hutan dan Sungai Mahakam sebagai urat nadi peradaban, sukses dipresentasikan melalui sebuah pertunjukan seni yang memukau.

Panggung megah di halaman terbuka UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Timur, Jalan Kemakmuran, Samarinda, menjadi saksi bisu megahnya pementasan tari kolosal bertema “Dari Hulu Rimba ke Hilir Mahakam, Bebaya Bangun Benua” pada Sabtu (20/6/2026).

Salah satu kurator cipta karya tari tersebut, Agus Setiaji, menjelaskan bahwa tema besar ini sengaja dipilih karena mampu menggambarkan keterhubungan yang erat antara kekayaan alam, sejarah, dan kebudayaan asli Kalimantan Timur.

Setiap bait frasa di dalam judul pertunjukan memiliki kedalaman makna filosofisnya masing-masing mengenai ruang hidup peradaban di Benua Etam.

"Hulu rimba melambangkan sumber kehidupan, kearifan alam, serta budaya masyarakat pedalaman. Sementara hilir Mahakam menggambarkan berkembangnya peradaban yang tumbuh di sepanjang aliran sungai,” jelas Agus Setiaji saat diwawancarai seusai acara.

Baca juga: Sejarah, Kostum, dan Makna Gerakan Tari Hudoq dari Kalimantan Timur

Makna Kebersamaan dan Tantangan Penyatuan Teknik Gerak

Agus memaparkan bahwa frasa penutup, yakni Bebaya Bangun Benua, mengandung esensi berupa semangat gotong royong dan kebersamaan dalam membangun daerah demi masa depan yang lebih baik.

Harapannya, pembangunan tersebut dapat berjalan beriringan tanpa harus mencabut akar budaya lokal serta kelestarian alam yang selama ini menjadi identitas bangsa.

Dalam proses di balik layar, Agus mengakui tim kreatif dihadapkan pada sejumlah tantangan pelik.

Proses penyatuan teknik gerak para penari yang memiliki latar belakang berbeda, penyelarasan jadwal latihan massal, pembangunan kekompakan tim dalam skala besar, hingga upaya menjaga konsistensi stamina seluruh peserta selama masa persiapan menjadi dinamika tersendiri yang harus dilewati demi menyuguhkan performa maksimal.

Baca juga: Puluhan Pelajar Samarinda Ikuti Pelatihan Seni Berpantun

Kombinasi Estetika Dayak-Kutai dan Kolaborasi Lintas Sanggar

Secara konseptual dan artistik, pertunjukan kolosal ini mengawinkan beragam corak kebudayaan daerah secara apik dengan mengombinasikan estetika tari Dayak, tari Kutai, serta tari kreasi baru yang terinspirasi langsung dari rutinitas harian masyarakat pedalaman dan pesisir.

Unsur dramatik kolosal disisipkan dengan kuat untuk memvisualisasikan perjalanan panjang kehidupan dari wilayah hulu menuju hilir Sungai Mahakam.

Produksi seni berskala besar ini melibatkan sedikitnya 50 penari dan 20 pemusik berbakat yang dihimpun dari 12 sanggar serta komunitas seni yang berbeda.

Guna menjaga kualitas artistik agar tetap selaras dengan konsep dasar, proses penciptaan karya didampingi secara melekat oleh empat orang kurator yang aktif memberikan masukan dan evaluasi berkala.

Melalui pertunjukan ini, pesan utama yang ingin disampaikan adalah pentingnya menjaga hubungan harmonis yang lestari antara manusia, alam, dan kebudayaan.

Agus berharap karya seni ini tidak sekadar menjadi tontonan hiburan visual semata, namun juga bertransformasi menjadi media edukasi dan apresiasi budaya yang mampu menumbuhkan rasa cinta generasi muda terhadap warisan leluhur Kalimantan Timur.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Humas Pemprov Kaltim

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU