KALTIM - Menatap hamparan pasir putih yang kontras dengan jernihnya air laut di Pulau Beras Basah memang menenangkan jiwa.
Namun, destinasi ikonik di Kota Bontang ini menawarkan lebih dari sekadar pemandangan estetik.
Di balik keindahannya, tersimpan narasi masa lalu yang terus diceritakan turun-temurun oleh masyarakat pesisir.
Bagi Kamu yang berencana berkunjung, memahami cerita rakyat yang menyelimuti tempat-tempat ini akan memberikan pengalaman wisata yang lebih mendalam dan bermakna.
Baca juga: Inilah Daftar Pasar Terbesar di Kaltim yang Jadi Pusat Grosir Antar Daerah
Karun Beras yang Menjadi Pulau
Legenda yang paling melekat pada Pulau Beras Basah adalah kisah kapal milik Kesultanan Kutai.
Menurut catatan sejarah lisan yang sering dikutip oleh Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Kota Bontang, pulau ini dulunya dipercaya terbentuk dari tumpah ruahnya muatan beras setelah sebuah kapal karam akibat badai besar di Selat Makassar.
Beras tersebut perlahan membeku, menyatu dengan karang, dan bertransformasi menjadi pulau pasir putih yang kini kita kenal.
Cerita ini bukan sekadar dongeng, tapi bentuk penghormatan terhadap sejarah maritim dan peringatan akan kuatnya arus di perairan tersebut bagi para pelaut.
Baca juga: Kumpulan Mitos dan Legenda Bontang yang Belum Banyak Diketahui
Narasi Kerukunan di Bontang Kuala
Bukan hanya pulau, kampung di atas air, Bontang Kuala, juga memiliki nostalgi sejarah yang kuat.
Berdasarkan informasi dari laman resmi Pemerintah Kota Bontang (bontangkota.go.id), asal-usul nama Bontang sendiri merujuk pada Perserikatan Tangga.
Ini adalah bukti sejarah bahwa sejak dulu, wilayah pesisir ini merupakan titik temu berbagai etnis mulai dari Kutai, Bajau, hingga Bugis yang bersatu demi kemajuan ekonomi.
Berjalan di atas jembatan kayu ulin di Bontang Kuala seperti kembali ke masa lalu, di mana setiap anak tangga rumah panggung memiliki cerita tentang persaudaraan antar suku yang tetap terjaga hingga era modern.
Harmoni dengan Alam: Mitos Buaya Guntung
Jika Kamu bergeser sedikit ke arah daratan, Kamu akan menemui cerita rakyat yang masih hidup hingga detik ini, yaitu Legenda Buaya Guntung.
Mitos tentang buaya kembaran yang lahir bersama manusia telah mendarah daging bagi masyarakat setempat.
Fenomena ini terdokumentasi dengan baik dalam berbagai liputan budaya nasional, termasuk dokumenter mengenai persahabatan legendaris antara Pak Ambo dan Buaya Riska.
Kedekatan ini menegaskan nilai budaya masyarakat Bontang yang sangat menghargai keseimbangan ekosistem, di mana predator sekalipun dipandang sebagai bagian dari keluarga besar alam yang harus dihormati dan dilindungi.
Baca juga: Kisah Gereja Tua di Tanah Etam, Warisan Misi Abad ke-19 yang Melintasi Zaman
Melestarikan Lewat Pesta Laut
Untuk menjaga agar cerita rakyat ini tidak lekang oleh zaman, masyarakat rutin menggelar Pesta Laut.
Sebagaimana dilansir dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kemendikbudristek, ritual ini dilakukan sebagai wujud syukur sekaligus penghormatan terhadap roh penjaga laut dan leluhur, termasuk legenda naga yang menjaga Sang Putri Karang Melenu.
Melalui festival ini, generasi muda Bontang diajak untuk terus mencintai laut dan tidak melupakan akar budaya yang telah membentuk jati diri kota mereka sebagai kota maritim yang harmonis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber