Gereja Katolik Santa Theresia Balikpapan. (Foto: Instagram.com/Danangkurniawan186)
KALTIM - Memasuki kawasan pusat kota Samarinda dan perbukitan Balikpapan, kita akan menemukan bangunan-bangunan yang tak sekadar menjadi tempat ibadah, melainkan kapsul waktu.
Gereja-gereja tua di Tanah Etam adalah saksi bisu perjalanan panjang penginjilan yang berkelindan dengan sejarah kolonial dan lahirnya kota-kota modern di Kalimantan Timur.
Perjalanan sejarah ini bermula dari tepian Sungai Mahakam. Di sinilah Katedral Santa Maria Penolong Abadi berdiri sebagai pusat gravitasi umat Katolik di ibu kota provinsi.
Sejarah mencatat bahwa misi Katolik di wilayah ini bukanlah hal baru, akarnya telah tertanam sejak akhir abad ke-19.
Baca juga: Siapa Bilang di Kalimantan Timur Tidak Ada Kereta? Begini Faktanya!
Gereja tua ini menjadi paroki utama yang mengoordinasi pelayanan bagi para pedagang dan pelayar di masa lalu.
Berdasarkan basis data GCatholic dan catatan resmi Keuskupan Agung Samarinda, katedral ini tetap mempertahankan lokasinya sebagai titik historis meskipun bangunan fisiknya telah melewati berbagai fase renovasi.
Kehadirannya menjadi pengingat akan masa-masa awal saat penginjilan mulai menyentuh masyarakat pesisir dan pendatang di Samarinda, seiring dengan geliat perdagangan sungai yang dinamis.
Bergeser ke arah selatan, Kota Balikpapan menyimpan kisah gereja tua yang tumbuh dari deru industri minyak.
Gereja Katolik Santa Theresia, yang mulai melayani umat sejak tahun 1930-an, merupakan monumen iman yang lahir di tengah pesatnya pertumbuhan kilang minyak.
Baca juga: Simak Panduan Lengkap dan Syarat Terbaru Pembuatan KTP di Kalimantan Timur
Sebagaimana dilansir melalui laporan Kompas dan arsip cagar budaya, gereja ini ditetapkan sebagai bangunan bersejarah yang merekam transformasi Balikpapan dari sebuah desa nelayan menjadi kota industri strategis.
Keberadaan Santa Theresia di kawasan Prapatan bukan tanpa alasan. Wilayah ini dulunya merupakan jantung aktivitas kolonial, di mana para pekerja dan pendatang dari berbagai penjuru berkumpul.
Di sana, gereja tidak hanya menjadi tempat ritus keagamaan, tetapi juga titik pertemuan sosial yang membentuk identitas kosmopolit Balikpapan di masa awal.
Tak jauh dari pusat misi Katolik, komunitas Protestan juga menorehkan sejarahnya di tanah Balikpapan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber