KALTIM - Di balik rimbunnya hutan hujan tropis Borneo, terdapat satu sosok yang keberadaannya melampaui logika biologis.
Burung enggang, bagi masyarakat Dayak, khususnya Suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur, bukanlah sekadar satwa langka.
Ia adalah manifestasi spiritual, simbol kehormatan, dan penjaga nilai-nilai luhur yang dijuluki sebagai Panglima Burung.
Wujud enggang begitu melekat dalam identitas budaya, ia hadir di setiap kepak tarian, ukiran mandau, hingga motif tato yang menghiasi tubuh para tetua.
Namun, mengapa burung ini begitu dikeramatkan?
Baca juga: Inilah Mitos Hantu Kelaparan yang Menghantui Jalur Samarinda - Balikpapan
Mitos Asal-usul: Leluhur yang Turun dari Langit
Kesakralan enggang berakar kuat pada mitologi penciptaan.
Dalam jurnal Makna Mitos Cerita Burung Enggang di Kalimantan Timur, dijelaskan bahwa masyarakat Dayak Kenyah meyakini nenek moyang mereka berasal dari langit.
Sosok leluhur ini dipercaya turun ke bumi dalam wujud yang menyerupai burung enggang.
Karena keyakinan adanya hubungan darah secara mistis inilah, membunuh atau menyakiti burung enggang dianggap sebagai tabu besar.
Bagi mereka, enggang adalah perantara antara dunia manusia dengan alam roh.
Sementara bagi Dayak Iban, burung ini merepresentasikan Sengalang Burong, dewa perang yang agung.
Baca juga: Kumpulan Mitos dan Legenda Bontang yang Belum Banyak Diketahui
Legenda Kirai dan Benih Kehidupan
Salah satu cerita rakyat yang paling menyentuh adalah kisah tentang Kirai.
Alkisah, Kirai menemukan seekor enggang yang terjerat dan menderita.
Alih-alih memanfaatkannya, Kirai membebaskan sang burung dengan penuh kasih sayang.
Ternyata, burung tersebut adalah perwujudan roh luhur.
Sebagai ungkapan terima kasih, sang enggang memberikan sebutir biji ajaib kepada Kirai.
Biji itulah yang kemudian tumbuh menjadi tanaman pangan utama yang menghidupi seluruh suku Dayak.
Legenda ini menjadi dasar filosofi bahwa enggang adalah pembawa kemakmuran dan penyelamat hidup.
Baca juga: Sisi Mistis Smanda Bontang yang Melegenda di Kalangan Pelajar
Mengapa Dijuluki Panglima Burung?
Gelar Panglima Burung bukanlah sembarang sebutan.
Enggang gading (Rhinoplax vigil) dipilih menjadi representasi pemimpin tertinggi karena filosofi pada atribut fisiknya:
- Sayap yang Kokoh: Melambangkan perlindungan total seorang pemimpin terhadap rakyatnya.
- Suara Keras Melengking: Simbol kewibawaan dan keberanian ksatria yang suaranya didengar dan dihormati.
- Tidak Mengais di Tanah: Enggang gading hanya mencari makan di pucuk pohon tinggi. Ini adalah simbol integritas, seorang pemimpin tidak boleh serakah atau "mengais" yang bukan haknya (anti-korupsi).
- Cinta Mati (Monogami): Kesetiaan enggang pada satu pasangan seumur hidup menjadi teladan bagi manusia dalam membina keluarga dan komunitas.
Baca juga: Menelusuri Jejak Mistis Gunung Menangis di Jalur Bontang-Samarinda
Petani Hutan yang Terancam Punah
Secara ekologis, mitos ini sebenarnya sangat logis.
Enggang adalah penyebar biji terbaik yang menjaga regenerasi hutan Kalimantan hingga seluas 100.000 hektare.
Tanpa enggang, pohon-pohon besar di Kalimantan terancam hilang.
Sangat menyedihkan bahwa sang Panglima Burung kini berada dalam status Kritis (Critically Endangered).
Perburuan liar demi "gading merah" atau balung enggang di pasar gelap internasional mengancam eksistensi legenda hidup ini.
Di Kalimantan Timur, upaya menjaga hutan berarti juga menjaga agar mitos dan filosofi Panglima Burung tidak sekadar menjadi cerita pengantar tidur, melainkan tetap nyata terbang di atas langit Borneo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber