KALTIM - Jika Kamu berkunjung ke Kota Minyak dan mengobrol dengan warga lokal, Kamu mungkin akan sering mendengar kalimat sapaan seperti “Apa kabar, Ces?” atau “Ke mana aja, Ces?”.
Bagi para pendatang atau masyarakat dari luar daerah, panggilan dan istilah tersebut tentu terdengar asing sekaligus membingungkan.
Dinamika interaksi di kota ini melahirkan sedikitnya 7 kosakata bahasa gaul khas Balikpapan yang sangat lekat dalam percakapan sehari-hari.
Kosakata pertama yang paling populer adalah kata ces.
Istilah ini merupakan sapaan akrab yang digunakan untuk memanggil teman, sahabat, atau orang yang sudah dikenal dekat, mirip dengan padanan kata bro atau kawan dalam bahasa Indonesia.
Baca juga: Sikat Modus Manipulasi Zonasi, Wali Kota Balikpapan Minta Warga Ikut Awasi SPMB 2026
Menariknya, panggilan ini bersifat netral dan tidak merujuk pada jenis kelamin tertentu.
Meskipun tidak ada literatur resmi, cerita di masyarakat menyebut bahwa kata ces diadopsi dari singkatan CS (ce-es) yang bermakna relasi pertemanan dekat.
Karena sifatnya yang kasual, kata ini hanya tepat digunakan dalam forum santai.
"Halo Ces, apa kabar? Malam Minggu ke mana, Ces? Lama nggak ketemu, Ces!" menjadi contoh kalimat yang paling sering terdengar di tongkrongan anak muda Balikpapan.
Ragam Sapaan Akrab Hasil Akulturasi Budaya
Selain kata ces, interaksi pemuda di Balikpapan juga diperkaya oleh kosakata kedua dan ketiga berupa pilihan sapaan akrab lain yang dipengaruhi unsur urbanisasi.
Di antaranya adalah kata po' (kosakata kedua) yang diperkirakan menyerap kata sappo dari bahasa Bugis yang berarti sepupu atau kerabat dekat untuk memanggil teman.
Baca juga: Menuju Smart City, Balikpapan Targetkan 400 Unit CCTV AI Awasi Ruang Publik
Selanjutnya terdapat kata wal (kosakata ketiga) yang berakar dari bahasa Banjar yakni kawal yang berarti teman, serta kata bosku (kosakata keempat) yang jamak diucapkan kepada kerabat dekat.
Tidak hanya sebatas kata sapaan untuk merekatkan pertemanan, kota ini juga memiliki kosakata kelima hingga ketujuh yang berupa istilah unik yang kerap memicu salah paham bagi pendatang baru.
Istilah tersebut adalah kata bote (kosakata kelima) yang memiliki arti bohong, serta kata waluh (kosakata keenam) yang bermakna sekadar alasan atau pura-pura.
Terakhir, terdapat penggunaan partikel pang (kosakata ketujuh) yang diletakkan di akhir kalimat sebagai kata imbuhan untuk mempertegas suatu pernyataan.
Ketujuh kombinasi bahasa gaul dan sapaan unik inilah yang membentuk identitas komunikasi urban di Kota Balikpapan.
Dengan memahami ragam bahasa unik ini, para pelancong dan pendatang baru diharapkan tidak perlu bingung lagi saat membaur dengan kehangatan warga lokal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan Langsung