Minggu, 28 DESEMBER 2025 • 13:02 WIB

Terpisah dari Induk, Bayi Hannes di Berau Sudah Punya Insting Survival Kuat

Author

Bayi orang utan bernama Hannes (1 tahun) di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, Kampung Merasa, Kabupaten Berau. (Foto: Istimewa)
KALTIM -
Kisah bayi orang utan bernama Hannes (1 tahun) di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, Kampung Merasa, Kabupaten Berau, menyentuh hati.

Meski baru berusia satu tahun dan terpaksa menjalani rehabilitasi setelah terpisah dari induknya, Hannes menunjukkan insting bertahan hidup yang luar biasa, menolak sentuhan manusia dan sudah mahir membuat sarang.

Proses penyelamatan Hannes dimulai pada Agustus 2025.

Kepala BKSDA Kaltim, Ari Wibawanto, menjelaskan bahwa evakuasi dilakukan menyusul laporan warga di Kutai Timur yang menemukan bayi orang utan tersebut di lahan mereka.

Baca juga: Bukan Kaleng-kaleng! Berau Sulap Pulau Kaniungan Jadi Destinasi Wisata Premium Bertaraf Internasional

“Kami segera melakukan upaya penyelamatan dan pada hari itu juga kita sudah menyelamatkan orangutan tersebut yang merupakan bayi yang masih cukup sehat tapi perlu adanya upaya rehabilitasi,” kata Ari, Senin (15/12/2025).

BKSDA kemudian bekerja sama dengan Conservation Action Network (CAN) untuk merawat dan mengasah kembali kemampuan alami Hannes di Berau.

Insting Liar yang Belum Padam

Bayi orang utan bernama Hannes (1 tahun) di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, Kampung Merasa, Kabupaten Berau. (Foto: Istimewa)
Direktur CAN, Paulinus Kristanto, menyebut Hannes memiliki karakter yang sangat aktif dan berbeda drastis dari bayi orang utan rehabilitasi lainnya.

Hannes tidak menunjukkan tanda-tanda ingin bermanja-manja dengan perawat satwa.

Sebaliknya, ia sangat mandiri.

"Hannes ini paling aktif, menjalani sekolah hutan, dia paling aktif. Tidak mau berpangku bermanjaan dengan keeper. Dia lebih suka di atas pohon,” ujar Paulinus.

Baca juga: Nyawa Anak Melayang Akibat Pelayanan? Pemkab Berau Bersiap Bongkar Total Tata Kelola Layanan Kesehatan

Paulinus menilai perilaku Hannes ini adalah pertanda positif dan modal besar bagi masa depannya.

Insting terkuat Hannes yang paling mengharukan adalah kemampuannya membuat sarang, sebuah keahlian yang hanya didapatkan dari belajar bersama induk di alam liar.

“Ini mengindikasikan, Hannes sempat hidup di alam bersama induknya,” tutur Paulinus, menegaskan bahwa Hannes berhasil menyerap pelajaran penting dari ibunya meskipun perpisahan terjadi terlalu dini.

Menanti Kepulangan Hingga 8 Tahun

Bayi orang utan bernama Hannes (1 tahun) di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, Kampung Merasa, Kabupaten Berau. (Foto: Istimewa)
Meskipun insting liarnya kuat, perjalanan Hannes untuk kembali ke rimba masih sangat panjang.

Ia masih harus tinggal di rumah bayi karena membutuhkan asupan susu dan perawatan intensif saban sore setelah program sekolah hutan.

Paulinus memperkirakan Hannes baru bisa dilepasliarkan saat memasuki usia matang, sekitar enam hingga delapan tahun.

Baca juga: Politisi Termuda Berau Ajak Anak Muda Rebut Ruang Kebijakan, Oktavia: Jangan Takut Politik Penuh Intrik!

Pelepasliaran hanya akan dilakukan jika perilaku alaminya stabil dan ia telah memiliki kemampuan survival yang mumpuni di hutan belantara.

Organisasi yang didirikan pemuda Dayak ini bertekad mencari rumah layak bagi Hannes dan satwa sitaan lainnya.

Misi mereka sederhana, memberikan kesempatan kedua bagi Hannes untuk kembali ke habitat aslinya.

“Target utamanya adalah memberikan kesempatan kedua kepada satwa untuk pulang ke hutan,” ucap Paulinus.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berauterkini.co.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU