KALTIM - Jika dibandingkan dengan kota lain di Kalimantan Timur, Kota Bontang mungkin terlihat mungil secara administratif karena hanya memiliki tiga kecamatan.
Namun, jangan salah sangka, di balik wilayahnya yang ringkas, kota ini merupakan salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Indonesia yang ditopang oleh sektor industri raksasa.
Fokus sebagai kota industri inilah yang membuat pembagian wilayahnya tetap ramping namun sangat efisien.
Bontang Utara menjadi wilayah pertama yang paling menonjol sebagai pusat kepadatan penduduk dan aktivitas masyarakat.
Baca juga: Ucapkan Selamat Tinggal pada Nama STITEK, Universitas Sains dan Teknologi Bontang Segera Lahir
Di kecamatan ini, denyut nadi ekonomi dan pemerintahan berpusat di kelurahan-kelurahan seperti Api-Api, Bontang Baru, Guntung, Gunung Elai, dan Lok Tuan.
Salah satu daya tarik utamanya adalah Kelurahan Bontang Kuala, sebuah destinasi wisata perkampungan di atas air yang menjadi ikon kebanggaan kota.
Beralih ke sisi lain, Bontang Selatan memegang peranan vital sebagai basis industri dan infrastruktur.
Wilayah ini mencakup area pelabuhan besar serta kelurahan seperti Berbas Pantai, Berbas Tengah, Satimpo, Tanjung Laut, dan Tanjung Laut Indah.
Baca juga: Andi Faizal Resmi Pimpin Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan di Bontang
Uniknya, pusat pemerintahan atau Kantor Walikota justru ditempatkan di Kelurahan Bontang Lestari yang lokasinya cukup tenang dan berjarak dari pusat keramaian kota di utara.
Sementara itu, Bontang Barat berfungsi sebagai gerbang utama bagi siapapun yang datang dari arah Samarinda maupun Sangatta.
Kecamatan yang terdiri dari Kelurahan Belimbing, Kanaan, dan Telihan ini menjadi titik transit penting yang menyambut setiap tamu sebelum memasuki area inti Kota Taman.
Keunikan lain yang membuat Bontang terasa perkasa adalah fakta bahwa pemukiman warga di kecamatan-kecamatan tersebut bersinggungan langsung dengan kawasan operasional perusahaan raksasa seperti PT Badak NGL dan PT Pupuk Kaltim.
Meskipun hanya memiliki tiga kecamatan, tata kelola yang rapi membuktikan bahwa produktivitas sebuah kota tidak selalu diukur dari luas wilayahnya, melainkan dari cara setiap jengkal tanahnya dikelola secara strategis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan Langsung