KALTIM - Memasuki kawasan pusat kota Samarinda dan perbukitan Balikpapan, kita akan menemukan bangunan-bangunan yang tak sekadar menjadi tempat ibadah, melainkan kapsul waktu.
Gereja-gereja tua di Tanah Etam adalah saksi bisu perjalanan panjang penginjilan yang berkelindan dengan sejarah kolonial dan lahirnya kota-kota modern di Kalimantan Timur.
Jejak Awal di Samarinda: Katedral Santa Maria Penolong Abadi
Perjalanan sejarah ini bermula dari tepian Sungai Mahakam. Di sinilah Katedral Santa Maria Penolong Abadi berdiri sebagai pusat gravitasi umat Katolik di ibu kota provinsi.
Sejarah mencatat bahwa misi Katolik di wilayah ini bukanlah hal baru, akarnya telah tertanam sejak akhir abad ke-19.
Baca juga: Siapa Bilang di Kalimantan Timur Tidak Ada Kereta? Begini Faktanya!
Gereja tua ini menjadi paroki utama yang mengoordinasi pelayanan bagi para pedagang dan pelayar di masa lalu.
Berdasarkan basis data GCatholic dan catatan resmi Keuskupan Agung Samarinda, katedral ini tetap mempertahankan lokasinya sebagai titik historis meskipun bangunan fisiknya telah melewati berbagai fase renovasi.
Kehadirannya menjadi pengingat akan masa-masa awal saat penginjilan mulai menyentuh masyarakat pesisir dan pendatang di Samarinda, seiring dengan geliat perdagangan sungai yang dinamis.
Balikpapan dan Warisan Gereja Santa Theresia
Bergeser ke arah selatan, Kota Balikpapan menyimpan kisah gereja tua yang tumbuh dari deru industri minyak.
Gereja Katolik Santa Theresia, yang mulai melayani umat sejak tahun 1930-an, merupakan monumen iman yang lahir di tengah pesatnya pertumbuhan kilang minyak.
Baca juga: Simak Panduan Lengkap dan Syarat Terbaru Pembuatan KTP di Kalimantan Timur
Sebagaimana dilansir melalui laporan Kompas dan arsip cagar budaya, gereja ini ditetapkan sebagai bangunan bersejarah yang merekam transformasi Balikpapan dari sebuah desa nelayan menjadi kota industri strategis.
Keberadaan Santa Theresia di kawasan Prapatan bukan tanpa alasan. Wilayah ini dulunya merupakan jantung aktivitas kolonial, di mana para pekerja dan pendatang dari berbagai penjuru berkumpul.
Di sana, gereja tidak hanya menjadi tempat ritus keagamaan, tetapi juga titik pertemuan sosial yang membentuk identitas kosmopolit Balikpapan di masa awal.
Denyut Spiritual di Kawasan Prapatan dan Jejak Protestan
Tak jauh dari pusat misi Katolik, komunitas Protestan juga menorehkan sejarahnya di tanah Balikpapan.
Kawasan Prapatan menjadi saksi bagaimana jemaat Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) tumbuh bersama dengan para pegawai administrasi dan industri minyak.
Meski banyak bangunan aslinya harus ditata kembali pasca-kemerdekaan, nilai historisnya tetap melekat kuat pada catatan jemaat setempat.
Dinamika kehidupan beragama di kawasan ini mencerminkan karakter Kalimantan Timur yang terbuka dan multikultural.
Gereja-gereja tua ini menjadi bukti bahwa di balik deru mesin kilang dan aktivitas ekonomi yang padat, kebutuhan akan pelayanan rohani selalu memiliki ruang khusus dalam pembangunan kota.
Baca juga: Dari Mana Asal Nama Kalimantan Timur?
Bertahan dari Badai Perang Dunia II
Salah satu fragmen paling dramatis dalam kisah gereja tua di Kaltim adalah saat mereka harus berhadapan dengan api peperangan.
Selama Perang Dunia II, posisi strategis Kaltim menjadikannya sasaran bom tentara Sekutu dan Jepang.
Banyak infrastruktur, termasuk gedung-gedung gereja awal, mengalami kerusakan berat atau rata dengan tanah.
Publikasi sejarah Indonesia sering kali mengulas bagaimana gereja-gereja yang kita lihat hari ini sebenarnya adalah hasil rekonstruksi penuh kasih di atas lokasi asli (titik nol) setelah perang berakhir.
Keteguhan umat untuk membangun kembali di lokasi yang sama menunjukkan bahwa warisan iman ini melampaui sekadar struktur fisik, ia adalah identitas yang tak goyah oleh perubahan zaman.
Baca juga: Ragam Kuliner Khas Kalimantan Timur yang Legendaris
Menjaga Warisan untuk Masa Depan
Hingga hari ini, gereja-gereja tua di Kalimantan Timur tetap berdiri teguh.
Mereka bukan sekadar relik masa lalu, melainkan bagian hidup dari narasi Tanah Etam.
Melalui keberadaan mereka, kita diajak untuk menghargai setiap jengkal sejarah yang telah membentuk wajah Kalimantan Timur saat ini sebuah wilayah yang dibangun di atas fondasi keberagaman dan ketangguhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber