Selasa, 10 FEBRUARI 2026 • 22:18 WIB

Asal-usul Nama Tenggarong: Jejak Rumah Raja dan Strategi Sultan Aji Imbut Membuang Sial

Author

Tenggarong pusat kebudayaan Kutai. (Foto: Wikipedia)
KALTIM -
Banyak yang mengenal Tenggarong sebagai pusat kebudayaan Kutai, namun tak banyak yang tahu bahwa kota ini lahir dari sebuah keputusan besar untuk meninggalkan masa lalu yang kelam.

Nama Tenggarong ternyata memiliki akar sejarah yang dalam, bermula dari sebuah pemukiman sederhana di pinggir Mahakam yang kemudian bertransformasi menjadi jantung Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Dari Pemarangan ke Tepian Pandan

Sejarah mencatat bahwa sebelum menetap di Tenggarong, pusat pemerintahan Kesultanan berada di Pemarangan.

Namun, di bawah kepemimpinan Sultan Aji Muhammad Muslihuddin atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Aji Imbut, muncul keinginan untuk memindahkan ibu kota.

Baca juga: Menelusuri Sejarah Kota di Kalimantan Timur: Dari Kerajaan Tertua hingga Kelahiran Ibu Kota Nusantara

Langkah ini dilakukan bukan tanpa alasan. Sultan Aji Imbut merasa perlu mencari lokasi baru untuk membuang sial dan mencari tempat yang lebih strategis, baik secara pertahanan militer maupun pertumbuhan ekonomi.

Pilihan jatuh pada sebuah wilayah subur di bantaran sungai yang saat itu bernama Tepian Pandan.

Transformasi Menjadi Tangga Arung

Setelah Sultan menetap di sana pada tanggal 28 September 1782, dibangunlah istana dan sarana pendukung pemerintahan lainnya.

Karena lokasinya yang menjadi kediaman resmi Sultan, masyarakat setempat dan para pendatang mulai menyebut wilayah tersebut sebagai Tangga Arung.

Baca juga: Mengenal Sejarah Singkat Raja Alam, Pahlawan Perkasa Berau yang Perjuangannya Kini Diangkat ke Film Kolosal

Dalam bahasa Kutai, Tangga Arung memiliki arti harfiah Rumah Raja (Tangga berarti rumah/tangga, dan Arung merujuk pada bangsawan atau raja).

Seiring berjalannya waktu dan pengaruh dialek masyarakat, penyebutan Tangga Arung mengalami pergeseran fonetik hingga akhirnya lebih populer dikenal dengan nama Tenggarong sampai saat ini.

Benteng Pertahanan dan Kemakmuran

Pemilihan Tenggarong sebagai ibu kota terbukti jenius secara taktis.

Letaknya berada di kelokan sungai yang aman dari serangan langsung musuh lewat jalur laut, namun tetap memiliki kontrol kuat terhadap lalu lintas perdagangan di hulu dan hilir Mahakam.

Di tempat inilah, identitas Islam yang dibawa oleh para ulama seperti Tuan Tunggang Parangan semakin mengakar kuat.

Puncak kemakmuran Tenggarong terjadi pada era Sultan Aji Muhammad Sulaiman, di mana penemuan sumber daya alam seperti minyak bumi menjadikan kesultanan ini salah satu yang terkaya di nusantara.

Warisan Budaya yang Tak Padam

Meski kekuasaan politik kesultanan secara resmi berakhir pada tahun 1960, nama Tenggarong tetap abadi sebagai simbol kedaulatan budaya.

Pada tahun 2001, identitas Rumah Raja ini dihidupkan kembali melalui penabalan Sultan baru, memastikan bahwa tradisi seperti Erau tetap dilaksanakan di tanah yang dahulu dipilih Sultan Aji Imbut untuk memulai lembaran baru.

Hingga hari ini, setiap sudut jalan di Tenggarong seolah berbisik tentang transformasi besar dari sebuah Tepian Pandan menjadi pusat peradaban yang tetap megah di Kalimantan Timur.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU