KALTIM - Bagi masyarakat luar daerah, kalimat "Muka dahsu kanma kh?" mungkin terdengar seperti bahasa asing atau kode rahasia yang tidak masuk akal.
Namun, bagi generasi muda Kota Bontang yang tumbuh di era tahun 2008 hingga 2017, kalimat tersebut adalah pertanyaan sehari-hari yang sangat akrab di telinga: "Kamu sudah makan kah?".
Kota Taman ternyata pernah memiliki fenomena bahasa gaul yang sangat khas dan unik.
Jika Kota Malang populer dengan bahasa walikan per huruf (seperti "Makan" menjadi "Nakam"), anak tongkrongan Bontang pada masanya memiliki rumusnya sendiri, yaitu membalikkan kata per suku kata.
Baca juga: Mengenal Logat Unik dan Keberagaman Bahasa Daerah di Kalimantan Timur
Rumus Unik Gaya Komunikasi Anak Bontang
Gaya bahasa ini sempat menjadi identitas dan tren besar di kalangan pelajar serta remaja Bontang.
Aturan mainnya terbilang sederhana namun kreatif, yaitu memotong kata berdasarkan suku katanya lalu menukar posisinya.
Sebagai contoh nyata:
- Kata "Kamu"* dibalik suku katanya menjadi "Muka" (ka-mu menjadi mu-ka).
- Kata "Makan" dibalik menjadi "Kanma" (ma-kan menjadi kan-ma).
- Kata "Sudah" berubah menjadi "Dahsu" (su-dah menjadi dah-su).
Saat kata-kata ini digabungkan menjadi satu kalimat utuh dengan tambahan logat khas Kaltim "kah", maka terciptalah komunikasi unik yang hanya dimengerti oleh sesama anak Bontang.
Jadi "Bahasa Rahasia" di Sekolah dan SMS
Menurut catatan kilas balik perkembangannya, bahasa sandi suku kata ini marak digunakan di area sekolah dan tempat-tempat nongkrong.
Banyak remaja memanfaatkannya sebagai bahasa rahasia agar obrolan atau gosip mereka tidak mudah dipahami oleh guru maupun orang tua.
Kepopuleran bahasa ini makin menggeliat seiring dengan tren bertukar pesan singkat via SMS di era telepon genggam jaman dulu, di mana anak muda sangat gemar mengeksplorasi gaya mengetik yang unik dan berbeda.
Baca juga: Dua Sekolah di Bontang Dominasi Daftar SMA Swasta Terbaik Se-Kaltim Berdasarkan TKA 2026
Tergerus Zaman, Masihkah Eksis?
Setelah masa kejayaannya yang bertahan hampir satu dekade hingga tahun 2017, eksistensi bahasa walikan khas Bontang ini perlahan-lahan mulai meredup.
Seiring bergantinya generasi dan masifnya pengaruh internet, anak muda zaman sekarang lebih akrab dengan istilah-istilah gaul modern berbasis media sosial.
Kini, bahasa unik tersebut menjadi sebuah kenangan kolektif yang manis.
Belum diketahui pasti apakah masih ada remaja Bontang saat ini yang menggunakan bahasa sandi tersebut, ataukah eksistensinya sudah sepenuhnya bertransformasi menjadi lembaran nostalgia bagi generasi 2000-an.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung