Ilustrasi Generated AI
KALTIM - Kekayaan seni budaya Kalimantan Timur tidak hanya tercermin dari keindahan gerak tari pesisir dan pedalaman, melainkan juga terpancar kuat dari lirik lagu-lagu daerahnya yang sarat akan pesan kehidupan.
Dua lagu tradisional Kaltim yang paling melegenda dan sering dinyanyikan adalah lagu "Indung-Indung" dan "Oh Adingkoh".
Baca juga: Jangkau 52 Kampus hingga Luar Daerah, Program Gratispol Pendidikan Cetak Sejarah Baru di Kaltim
Lagu "Indung-Indung" merupakan warisan seni tutur berwujud pantun berirama riang yang sangat populer di kalangan masyarakat Melayu-Kutai pesisir Kaltim.
Berikut adalah potongan lirik utuh yang biasa dilantunkan:
Indung-indung kepala kendang,
Hujan di udik di sini mendung.
Anak siapa ditudung memandang,
Bagaikan bulan pagar bermunung.
Aduhai selendang tenunan seberang,
Mari dipakai di hari raya.
Wahai kau anak janganlah bimbang,
Mari bersama kita berdoa.
Jangan sembahyang di waktu sore,
Matahari condong jalan berliku.
Janganlah lalai petuah nasehat,
Patuhi selalu perintah agamamu.
Di balik nadanya yang sering digunakan sebagai lagu pengantar tidur anak, "Indung-Indung" sesungguhnya menyimpan fungsi edukasi teologis yang mendalam.
Lagu ini berisi petuah bijak dari orang tua zaman dahulu yang mendidik anak-anak agar taat mendirikan ibadah shalat tepat waktu, menjauhi kelalaian duniawi, serta senantiasa memegang teguh norma agama Islam dalam kehidupan bermasyarakat.
Baca juga: Mengenal Logat Unik dan Keberagaman Bahasa Daerah di Kalimantan Timur
Berbeda dengan struktur pantun pada lagu sebelumnya, lagu "Oh Adingkoh" merupakan karya cipta maestro musik legendaris Kaltim, Roesli.
Lagu ini memiliki warna melodi yang melankolis dan penuh penjiwaan rasa emosional.
Lirik lagu "Oh Adingkoh" (yang berarti Oh Adikku) mengisahkan curahan hati, kasih sayang, dan kerinduan yang mendalam dari seorang kakak yang terpisah jarak dengan adik tercintanya.
Melalui lagu ini, terselip doa dan harapan tulus agar sang adik selalu berada dalam lindungan Tuhan serta pengingat akan pentingnya menjaga ikatan tali persaudaraan keluarga meskipun roda kehidupan memaksa mereka untuk hidup merantau di tempat yang saling berjauhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber