Selasa, 09 JUNI 2026 • 06:32 WIB

Menyusuri Jalur Ulin Bontang Mangrove Park, Wahana Liburan Murah Ramah Ekologi

Author

Bontang Mangrove Park (BMP) yang berada di bawah naungan Taman Nasional Kutai. (Foto: Bagus Ario/Googlemaps.com)
KALTIM -
Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur (Dispar Kaltim) kini tengah gencar mengangkat pesona destinasi wisata alam berbasis konservasi mangrove.

Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata untuk menarik minat kunjungan turis domestik maupun mancanegara lewat sektor ekowisata.

Salah satu destinasi yang menjadi proyek percontohan sukses adalah Bontang Mangrove Park (BMP) yang berada di bawah naungan Taman Nasional Kutai.

Kawasan ini dinilai berhasil memadukan tiga konsep utama pariwisata secara apik, yakni konservasi, edukasi, serta petualangan alam terbuka.

"Pengembangan ekowisata seperti Bontang Mangrove Park membuktikan bahwa pelestarian alam dan edukasi lingkungan bisa menjadi daya tarik unggulan yang berdampak positif pada ekonomi masyarakat," kata Kepala Dispar Kaltim, Ririn Sari Dewi.

Baca juga: Jelajahi Pura Buana Agung hingga Mangrove Park di Jantung Kota Bontang

Petualangan Menembus Lorong Hijau Sepanjang 2 Kilometer

Bontang Mangrove Park (BMP) yang berada di bawah naungan Taman Nasional Kutai. (Foto: R. Amalina F. Al Husna/Googlemaps.com)
Para wisatawan yang berkunjung ke Bontang Mangrove Park dapat menikmati keasrian ekosistem hutan bakau seluas 279 hektare dengan berjalan kaki di atas fasilitas jembatan kayu ulin sepanjang 2,15 kilometer.

Jalur ikonik yang membelah rimbunnya dedaunan ini memberikan pengalaman liburan yang menenangkan sekaligus ramah lingkungan.

Destinasi ini juga berfungsi sebagai ruang kelas alam terbuka yang interaktif.

Selain menawarkan pemandangan lorong kanopi hijau yang sejuk, pengunjung bisa belajar mengenal beragam vegetasi khas pesisir, seperti spesies Rhizophora sp dan Avicennia sp.

Tidak hanya flora, kawasan wisata kebanggaan masyarakat Bontang ini juga menjadi rumah bagi fauna endemik Kalimantan.

Jika beruntung, para pelancong dapat menjumpai satwa liar penghuni hutan secara langsung, di antaranya Bekantan (monyet Belanda), Monyet ekor panjang, Burung bangau tong-tong.

Baca juga: Pemkot Bontang dan Badak LNG Tanam 4.000 Mangrove Perkuat Ekowisata Berbas Pantai

Perisai Alami Abrasi dengan Harga Tiket Terjangkau

Bontang Mangrove Park (BMP) yang berada di bawah naungan Taman Nasional Kutai. (Foto: Andi Faizal Andi/Googlemaps.com)
Secara ekologis, Ririn memaparkan bahwa jejaring akar pohon bakau di lokasi wisata ini bertindak sebagai perisai alami yang sangat efektif dalam membentengi daratan pesisir dari risiko abrasi dan gempuran ombak laut.

Keberhasilan pelestarian ini dibuktikan dengan data tutupan lahan mangrove di BMP yang mengalami perluasan luar biasa dalam dua dekade terakhir.

Dari yang awalnya hanya seluas 84,67 hektare pada tahun 2002, kini telah melonjak signifikan menjadi 279 hektare.

"Lokasinya yang mudah diakses dari pusat Kota Bontang menjadikan wahana ekologis dengan harga tiket terjangkau ini selalu menyedot puluhan ribu wisatawan setiap tahun," jelas Ririn.

Baca juga: Bontang Tak Lagi Hanya Industri! Investor Diundang Danai Hutan Mangrove hingga Pulau Beras Basah

Jadi Percontohan Nasional, Dispar Dorong Replikasi Daerah

Sistem tata kelola pariwisata di BMP merupakan buah dari hasil gotong royong dan kolaborasi solid antara pihak pemerintah, sektor swasta, serta pelibatan aktif masyarakat lokal.

Keberhasilan sinergi ini bahkan telah mendapat apresiasi langsung dari Komisi IV DPR RI sebagai salah satu percontohan ekowisata tingkat nasional.

Berkaca dari kesuksesan tersebut, Dispar Kaltim berharap model kolaborasi pariwisata berbasis lingkungan di Bontang ini dapat segera direplikasi oleh pemerintah kabupaten dan kota lainnya di wilayah Kalimantan Timur.

Dengan demikian, kekayaan alam Bumi Etam dapat tetap terjaga kelestariannya sekaligus mampu memajukan kesejahteraan ekonomi warga sekitar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU