Gua Tewet yang terkenal dengan pesona gambar cadas purbanya. (Foto: Muhammad Dhani/googlemaps.com)
KALTIM - Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XIV Kalimantan Timur-Kalimantan Utara terus memperkuat komitmen perlindungan terhadap situs-situs prasejarah.
Langkah nyata ini diwujudkan melalui penempatan juru pelihara khusus di setiap situs dari enam cagar budaya gua prasejarah yang terletak di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Kepala BPKW XIV Kaltim-Kaltara, Titit Lestari, mengungkapkan bahwa penempatan petugas ini bertujuan untuk memastikan warisan bersejarah tersebut tetap terjaga, sekaligus menjadi pusat informasi dan edukasi bagi masyarakat maupun wisatawan yang datang berkunjung.
"Kami menempatkan juru pelihara di lokasi cagar budaya agar warisan bersejarah ini tetap terjaga sekaligus menjadi sumber informasi bagi masyarakat," kata Titit Lestari di Samarinda.
Baca juga: 4 Situs Ikonik Kaltim yang Akan Masuk Daftar Cagar Budaya Nasional
Keenam situs gua prasejarah yang menjadi fokus pelestarian ini berada di wilayah Desa Tepian Langsat, Kutai Timur.
Situs-situs ini memegang peranan penting sebagai bagian dari kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat.
Guna menjamin keamanan dan perawatan yang optimal, berikut adalah daftar enam cagar budaya tersebut beserta nama petugas yang mengawasinya secara khusus:
Baca juga: Serangan Siber Bertubi-tubi Hantam Situs Berita Lokal Usai Ungkap Jejak Judi Online
Baca juga: Daftar Landmark Ikonik di Kalimantan Timur yang Wajib Dikunjungi Wisatawan!
Lebih lanjut, Titit menjelaskan bahwa para juru pelihara di lapangan dilatih untuk tidak sekadar menjadi penjaga pasif.
Mereka memegang peran krusial sebagai pemandu wisata edukasi bagi para pelancong.
Melalui kehadiran para petugas ini, pengunjung dapat memperoleh informasi komprehensif mengenai latar belakang sejarah, nilai penting situs bagi peradaban, hingga memantau kondisi terkini dari masing-masing cagar budaya.
Tidak hanya itu, para juru pelihara juga siap memberikan asistensi bagi wisatawan yang ingin mendokumentasikan kunjungan mereka selama berada di kawasan gua.
Baca juga: Menjelajahi Kemegahan Vihara dan Kelenteng Ikonik di Balikpapan
Dalam menjaga kelangsungan warisan budaya ini, BPKW XIV membuka ruang partisipasi publik secara luas.
Pemerintah mengajak masyarakat untuk aktif memberikan penilaian serta masukan terhadap kualitas pelayanan di destinasi sejarah tersebut.
Berbagai umpan balik dari pengunjung nantinya akan dijadikan bahan evaluasi penting demi meningkatkan mutu pelayanan publik sekaligus menyempurnakan strategi pelestarian situs prasejarah secara berkelanjutan.
"Melalui pendampingan yang berkelanjutan, kami berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam menjaga dan merawat jejak peradaban yang sangat berharga ini," pungkas Titit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber