Sabtu, 09 AGUSTUS 2025 • 12:51 WIB

Pelajar SMP Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar, Diduga Terkait Masalah Asmara

Author

Pelajar SMP Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar (Ist)
INDOZONE.ID -
Sebuah peristiwa tragis menggemparkan warga Desa Loa Duri Ulu, Kecamatan Loa Janan, setelah seorang pelajar SMP berinisial V (15) ditemukan meninggal dunia karena gantung diri di dalam kamarnya pada Kamis (7/8/2025) lalu.

Diduga, korban nekat mengakhiri hidupnya karena persoalan asmara.

Berdasarkan keterangan polisi, korban ditemukan tidak bernyawa oleh kedua orang tuanya.

Saat itu, korban yang tidak masuk sekolah mengeluh sakit dan memilih beristirahat di kamarnya sejak pagi.

Baca juga: PNS Asal Muna Barat Ditemukan Tak Bernyawa di Atas Kapal di Pelabuhan Kendari

Pukul 13.30 WITA, ibu korban memanggilnya untuk makan siang, tetapi tak mendapat jawaban.

Merasa khawatir, sang ibu memanggil suaminya untuk mendobrak pintu kamar yang terkunci dari dalam.

Pukul 14.00 WITA, saat pintu berhasil dibuka, mereka terkejut menemukan V sudah dalam keadaan tergantung di teralis jendela menggunakan kabel listrik.

"Setelah beberapa kali dipanggil, korban tidak menyahut. Ibunya kemudian mengetuk pintu, namun tetap tidak ada jawaban," ujar IPDA Dwi Handono, Kanit Reskrim Polsek Loa Janan, yang mewakili Kapolsek AKP Abdillah Dalimunthe.

Baca juga: Tragedi Taruna AL yang Tubuhnya Disetrika 90 Kali hingga Berakhir Tak Bernyawa

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan awal, polisi menduga kuat bahwa motif korban mengakhiri hidupnya adalah karena masalah asmara.

IPDA Dwi Handono menegaskan bahwa tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain pada tubuh korban, selain indikasi gantung diri.

"Motif sementara mengarah ke masalah asmara yang dialami korban. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain selain indikasi gantung diri," jelasnya.

Pihak keluarga telah menerima musibah ini dengan ikhlas dan menolak dilakukan autopsi maupun visum.

Mereka membuat surat pernyataan penolakan dan menyatakan menerima kejadian ini sebagai takdir.

"Keluarga korban membuat surat pernyataan penolakan autopsi dan visum. Mereka menyatakan ikhlas atas kejadian ini," imbuh IPDA Dwi.

Atas kejadian ini, kepolisian mengimbau para orang tua untuk lebih peka terhadap kondisi mental dan psikologis anak, terutama pada usia remaja yang rentan mengalami tekanan emosional. Polisi menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak untuk mencegah hal serupa terjadi di kemudian hari.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU