Salah satu simbol kebudayaan yang paling ikonik di Benua Etam adalah Rumah Lamin. (Foto: borneobaru.id)
KALTIM - Di tengah pesatnya laju modernitas Kalimantan Timur, warisan arsitektur leluhur tetap berdiri kokoh sebagai identitas penjaga peradaban.
Salah satu simbol kebudayaan yang paling ikonik di Benua Etam adalah Rumah Lamin, hunian tradisional masyarakat Dayak yang secara mendalam merepresentasikan nilai kebersamaan, gotong royong, dan kesetaraan sosial antargenerasi.
Sebagai pusat aktivitas komunal, rumah panggung raksasa ini tidak sekadar berfungsi sebagai tempat bernaung dari hujan dan panas, melainkan episentrum dari seluruh denyut nadi kehidupan sosial, mulai dari upacara adat, musyawarah besar warga, hingga ritual keagamaan sakral suku Dayak.
Baca juga: Mengupas Filosofi Mandau dan Sumpit Khas Dayak Kaltim
Secara etimologi, istilah "Lamin" mula-mula diadopsi dari rumpun bahasa di Kalimantan Utara ke dalam bahasa Melayu Kalimantan Timur, seperti bahasa Kutai dan Berau.
Merujuk pada buku Jelajah Arsitektur Lamin Suku Dayak Kenyah karya Tri Agustin Kusumaningrum, tiap-tiap kelompok etnis Dayak sejatinya memiliki sebutan tersendiri untuk bangunan komunal ini.
Masyarakat Dayak Kenyah dan Bahau mengenalnya dengan sebutan Amin, sementara sub-suku lain akrab dengan istilah Lo'uw, Lu'ud, atau Lewu Hante.
Desain arsitekturnya pun melambangkan kekhasan klan masing-masing, seperti Rumah Lamin Pepas Eheng milik masyarakat Dayak Benuaq serta Rumah Lamin Adat Pemung Tawai khas Dayak Kenyah.
Baca juga: Inilah Mitos Panglima Burung dan Alasan Suku Dayak Kenyah Mengkeramatkan Enggang
Ditinjau dari kekuatan strukturnya, Rumah Lamin dirancang dengan skala yang sangat masif guna menampung sebuah peradaban kecil.
Bangunan ini mampu mencapai panjang luar biasa antara 200 hingga 300 meter dengan lebar 15 hingga 25 meter, serta sanggup menampung puluhan kepala keluarga atau sekitar 100 jiwa dalam satu atap yang sama.
Guna melindungi komunitas dari ancaman banjir musiman serta serangan binatang buas di pedalaman hutan Borneo, Lamin didirikan dengan konsep rumah panggung setinggi kurang lebih 3 meter dari permukaan tanah.
Berdasarkan kajian arsitektur yang dirilis oleh Kementerian Pariwisata, tiang-tiang silinder penopang utama struktur megah ini didominasi oleh kayu ulin (kayu besi).
Karakteristik kayu ulin yang antiprayap dan justru teruji semakin kokoh ketika terendam air menjadi rahasia utama mengapa Rumah Lamin mampu berdiri tegak melintasi zaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber