Masjid Cheng Hoo Samarinda: Di Mana Relief Naga dan Patung Singa Bersanding dengan Kaligrafi
KALTIM - Di jantung ibu kota Kalimantan Timur, berdiri sebuah bangunan religi yang memikat mata siapa pun yang melintas di Jalan Ruhui Rahayu 1.
Masjid Cheng Hoo Samarinda bukan sekadar tempat ibadah, melainkan galeri hidup yang menampilkan keberanian akulturasi antara budaya Tiongkok, Arab, dan nilai-nilai lokal di Benua Etam.
Bangunan ini menjadi simbol perdamaian umat beragama dengan tampilan visual yang menawan.
Dominasi warna merah, hijau, dan kuning yang mencolok segera membawa ingatan pengunjung pada nuansa khas negeri tirai bambu, namun tetap khusyuk dalam nafas islami.
Baca juga: Wawali Agus Haris Serahkan Bantuan Rp100 Juta, Ajak Warga Berbas Tengah Jadikan Masjid Pusat Edukasi
Detail Arsitektur yang Bernilai Seni Tinggi
Keunikan paling menonjol dari rumah ibadah ini terletak pada pintu masuknya yang didesain menyerupai bentuk pagoda.
Tak hanya itu, dinding-dindingnya dihiasi dengan ukiran relief naga yang memiliki nilai seni tinggi, sebuah simbol yang jarang ditemukan pada arsitektur masjid konvensional, namun di sini tampil harmonis sebagai bentuk penghormatan budaya.
Titik puncak estetika masjid ini terlihat pada bagian atas pagoda.
Di sana, sebuah patung singa dari lilin disandingkan secara berdampingan dengan lafaz Allah dalam huruf Arab.
Perpaduan ini menjadi pesan kuat bahwa iman dan budaya dapat berjalan beriringan dalam kedamaian.
Baca juga: Tak Hanya Tempat Ibadah, Gubernur Kaltim Ingin Setiap Masjid Lahirkan Qari dan Kader Muslim Unggul
Jejak Persaudaraan di Jalur Poros
Keindahan serupa juga dapat ditemukan pada "saudara tua"-nya, yakni Masjid Muhammad Cheng Hoo di Desa Batuah, Kutai Kartanegara.
Berdiri sejak tahun 2006 atas inisiatif pengusaha keturunan Tionghoa, Yostomo, masjid di jalur poros Samarinda-Balikpapan ini juga mengusung konsep pagoda dengan dominasi warna merah terang.
"Masjid ini selalu ramai dikunjungi, terutama saat musim mudik Lebaran," ujar Nurdin Haddade, Sekretaris Pengurus Masjid Muhammad Cheng Hoo, Jumat (6/3/2026).
Meski memiliki arsitektur ala klenteng yang megah, pengelola tetap mengedepankan fungsi sosial bagi para musafir.
Fasilitas seperti area parkir luas, toilet bersih, hingga tempat istirahat gratis disediakan bagi para pelancong dari luar daerah, seperti Banjarmasin, yang ingin memulihkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan.
Baca juga: Masjid Agung Baitul Hikmah Jadi Titik Pantau Hilal di Berau, Penentuan 1 Ramadan Digelar 17 Februari
Konsistensi di Tengah Perubahan
Walaupun keberadaan jalan tol kini sedikit menurunkan volume pelancong yang singgah di jalur poros, masjid-masjid Cheng Hoo di Kaltim tetap konsisten menjadi pusat kegiatan sosial.
Di bulan Ramadan, swadaya warga sekitar tetap menghidupkan tradisi buka puasa bersama, menjaga nyala toleransi yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber