KALTIM - Jauh dari Tanah Paser yang pernah dipimpinnya, Sultan Ibrahim Chaliluddin menghabiskan hari-hari terakhir kehidupannya di pengasingan di sebuah kota di Jawa Barat.
Tanpa istana megah maupun singgasana kerajaan, sultan terakhir Kesultanan Paser ini memilih jalan sunyi kehilangan kekuasaan demi mempertahankan martabat dan harga diri rakyatnya dari cengkeraman kolonial Belanda.
Sultan Ibrahim Chaliluddin memegang tampuk kepemimpinan Kesultanan Paser pada periode tahun 1900 hingga 1906.
Masa pemerintahannya diwarnai oleh masifnya ekspansi pengaruh Pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan.
Baca juga: Sejarah Kota Samarinda, Ternyata Berawal dari Kisah Bugis Wajo yang Hijrah Usai Perang Gowa
Di tengah tekanan bertubi-tubi itu, sang sultan menolak keras berbagai regulasi kolonial yang dinilai merugikan masyarakat dan mengancam kedaulatan kerajaannya.
“Beliau bisa saja memilih jalan aman dan berkompromi dengan kolonial. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Beliau berdiri bersama rakyatnya. Beliau adalah simbol perjuangan rakyat Paser, sosok yang memilih mempertahankan harga diri bangsanya meskipun harus kehilangan takhta, kebebasan, bahkan tanah kelahirannya sendiri,” ujar Ketua Yayasan Aji Galeng, Bambang Arwanto.
Menolak Kompromi dan Memimpin Pergerakan Sarekat Islam
Tak sebatas berjuang dari balik tembok istana, seiring tumbuhnya fajar kebangkitan nasional, Sultan Ibrahim melebarkan sayap perlawanan dengan masuk ke dalam struktur gerakan kerakyatan.
Baca juga: Jangkau 52 Kampus hingga Luar Daerah, Program Gratispol Pendidikan Cetak Sejarah Baru di Kaltim
Ia tampil memimpin sebagai Ketua Sarekat Islam (SI) Cabang Paser, menjadikan organisasi tersebut sebagai wadah pergerakan massa dalam menyuarakan ketidakadilan di bawah roda kolonialisme.
“Beliau memahami bahwa perjuangan tidak cukup hanya dari istana. Karena itu beliau hadir bersama rakyat dalam gerakan yang lebih luas,” tambah Bambang, yang baru-baru ini melakukan ziarah ke makam sang sultan di Cianjur bersama sejumlah keturunan garis darah kesultanan.
Puncak Perlawanan dan Vonis Buang Seumur Hidup
Ketegangan antara pihak kesultanan dan penjajah mencapai klimaksnya pada kurun waktu 1915 hingga 1916.
Gelombang perlawanan rakyat Paser yang berafiliasi dengan Sarekat Islam membesar dan dinilai sebagai ancaman militer serius oleh Hindia Belanda.
Baca juga: Destinasi Sejarah di Kaltim yang Kini Makin Modern dan Edukatif
Sultan Ibrahim Chaliluddin dituding sebagai otak utama di balik mobilisasi perlawanan massal tersebut.
Akibatnya, pemerintah kolonial menangkap sang raja dan menjatuhkan vonis kejam: hukuman pengasingan seumur hidup ke Cianjur, Jawa Barat, untuk memutus total pengaruh dan hubungannya dengan tanah leluhur yang ia cintai.
Hingga akhirnya pada 19 Oktober 1930, Sultan Ibrahim wafat dan dikebumikan secara sederhana di kota pengasingannya tersebut.
Diusulkan Menjadi Pahlawan Nasional Kedua dari Kaltim
Saat ini, nama besar Sultan Ibrahim Chaliluddin tengah diperjuangkan untuk diusulkan mendapatkan gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia.
Jika usulan ini disetujui oleh negara, ia akan tercatat sebagai Pahlawan Nasional kedua asal Kalimantan Timur setelah Sultan Muhammad Idris.
Baca juga: Mengenal Rumah Dahor, Museum Hidup Sejarah Minyak Balikpapan yang Instagramable
Bambang menilai, di tengah momentum pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang saat ini masif berjalan di tanah Kalimantan Timur, restorasi kisah kepahlawanan ini menjadi sangat relevan sebagai refleksi historis generasi muda.
"Ini bukan hanya tentang Sultan Ibrahim Chaliluddin. Ini tentang sejarah perjuangan masyarakat Paser yang harus diketahui generasi sekarang dan masa depan. Anak-anak muda perlu tahu bahwa tanah yang mereka pijak hari ini memiliki sejarah panjang. Ada tokoh-tokoh yang rela kehilangan segalanya demi masa depan bangsa,” pungkas Bambang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber Berita