Jumat, 19 JUNI 2026 • 13:07 WIB

Mengintip Kearifan Lokal Pesta Adat Nutuk Beham di Kukar

Author

Tradisi leluhur bernama Nutuk Beham. (Foto: wikipedia)
KALTIM -
Masyarakat adat Kutai Lawas di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, terus konsisten mempertahankan tradisi leluhur bernama Nutuk Beham.

Ritual adat tahunan ini digelar sebagai bentuk ungkapan rasa syukur yang mendalam atas kelimpahan hasil panen padi, sekaligus media untuk menyalurkan nilai kearifan lokal kepada generasi muda.

Salah satu muatan edukasi kultural yang paling kuat dalam perayaan ini adalah penanaman pesan filosofis mengenai larangan keras membuang-buang beras sembarangan, sebuah petuah kuno yang terus diajarkan kepada anak cucu guna menanamkan rasa hormat yang tinggi terhadap kelestarian alam.

"Kita harus selalu ingat dengan asal usul warisan leluhur, sehingga tradisi penghormatan terhadap proses mengolah beras bisa terus berlanjut dan dipahami oleh para generasi muda," kata Tokoh Adat Desa Kedang Ipil, Sartin, di Kutai Kartanegara.

Baca juga: Menguak Rahasia di Balik Sakralnya Upacara Adat Terbesar Kaltim

Prosesi Unik dan Esensi Gotong Royong Warga Desa

Sartin menjabarkan secara presisi bahwa kearifan lokal dalam pengolahan pangan ini bermula dengan mengambil rendaman bulir-bulir padi pilihan berkualitas tinggi.

Padi tersebut kemudian disangrai secara massal di atas tungku perapian tradisional hingga mengeluarkan aroma harum yang khas.

Setelah suhunya mendinginkan, seluruh warga desa dari berbagai usia berkumpul untuk bahu-membahu menumbuk padi ketan tersebut secara bergantian di dalam sebuah lesung kayu berukuran besar.

Karakteristik pelaksanaan pesta adat Nutuk Beham ini memakan waktu hingga tiga hari penuh demi memastikan kualitas beras ketan yang dihasilkan benar-benar bersih sempurna dari kulitnya, di mana interaksi erat yang tercipta secara alami selama berhari-hari di area lesung penumbukan tersebut secara otomatis mampu mempererat tali persaudaraan serta solidaritas antar-warga pedesaan, hingga akhirnya pada puncak acara, beras hasil tumbukan bersama itu langsung dimasak dan dihidangkan hangat untuk dinikmati secara komunal oleh seluruh warga desa maupun pelancong dari luar daerah.

Baca juga: Menelusuri Identitas Suku Kutai dan Dayak di Kalimantan Timur Melalui Keunikan Bahasa dan Adat Istiadatnya

Diakui Negara sebagai Warisan Budaya Takbenda

Keberhasilan masyarakat adat Kedang Ipil dalam merawat keberlanjutan ritual turun-temurun ini membuahkan hasil manis.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan secara resmi telah menetapkan perayaan Nutuk Beham sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dari wilayah Kalimantan Timur.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Kalimantan Timur, Lestari, menyatakan bahwa pengakuan ini merupakan bentuk perlindungan hukum bagi kearifan lokal masyarakat Kutai Lawas.

Pihaknya mendorong adanya pembuatan regulasi formal lanjutan agar hak-hak masyarakat adat semakin terlindungi saat melaksanakan agenda kebudayaan tahunan tersebut.

"Selain melindungi, kita semua juga harus mengembangkan serta memanfaatkan bagaimana cara memfasilitasi berbagai kegiatan pengembangan dari pesta adat yang membanggakan ini," ujar Lestari menuturkan dukungannya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU