Rombongan pejabat dari ujung timur Indonesia, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat Daya. (Foto: Tom/PPID Kota Samarinda)
KALTIM - Rombongan pejabat dari ujung timur Indonesia, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat Daya, datang jauh-jauh bukan untuk sekadar berwisata, melainkan untuk mengadopsi ilmu tata kelola pelayanan kesehatan masyarakat.
Target utama dari provinsi yang terkenal dengan ikon wisata dunia “Raja Ampat” ini adalah mempelajari secara mendalam sistem operasional Public Safety Center (PSC) 119 Doctor On Call (DOC).
Layanan gawat darurat unggulan Kota Samarinda ini kini mulai dikenal luas sebagai salah satu sistem respons cepat kesehatan terbaik di luar Pulau Jawa.
Delegasi yang dipimpin langsung oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat Daya, dr. Jan Pieter, bersama sejumlah Anggota DPRD Provinsi diterima dengan hangat oleh Wakil Wali Kota Samarinda, H. Saefuddin Zuhri, di Ruang Rapat Lantai 3 Balai Kota Samarinda.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Jan Pieter secara terus terang mengungkapkan alasan mengapa pihaknya menjatuhkan pilihan ke Kota Tepian, alih-alih memilih kota besar lain di Pulau Jawa atau ibu kota provinsi tetangga.
“Samarinda kami nilai sebagai acuan terbaik pelayanan kesehatan di luar Pulau Jawa,” tegas dr. Jan Pieter di sela-sela pertemuan.
Baca juga: Kampung Narkoba Samarinda Cetak Omzet Rp200 Juta Sehari Sebelum Digulung
Sebagai provinsi ke-38 dan berstatus paling muda di Indonesia, Papua Barat Daya membawahi wilayah daratan seluas 38.820 kilometer persegi yang mencakup 5 kabupaten dan 1 kota.
Dengan fasilitas penunjang berupa 13 rumah sakit dan 129 puskesmas yang tersebar, tantangan geografis menjadi kendala utama dalam distribusi layanan kesehatan yang merata.
Oleh sebab itu, sistem kedaruratan terpadu seperti PSC 119 DOC di Samarinda dinilai sangat relevan untuk diadopsi.
Dalam sesi pemaparan teknis, perwakilan Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP), Amir Husain, membeberkan perjalanan panjang program Doctor On Call dari masa merintis hingga sukses meraih berbagai penghargaan bergengsi di tingkat nasional.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Samarinda, H. Saefuddin Zuhri, menegaskan bahwa DOC bukan sekadar program kerja biasa.
Inovasi ini merupakan komitmen nyata dari Wali Kota Dr. H. Andi Harun untuk menghadirkan pelayanan medis yang cepat, responsif, gratis, dan menyentuh langsung ke dalam rumah-rumah warga.
“Moga-moga program ini bisa ditiru dan dijalankan di Papua Barat Daya, untuk kemaslahatan masyarakat di sana,” ujar Saefuddin Zuhri penuh harap.
Baca juga: Ini Asal-usul Nama Kota Samarinda dan Kaitannya dengan Bugis Wajo
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: PPID Kota Samarinda