Minggu, 02 NOVEMBER 2025 • 08:16 WIB

Gempuran Online Shop Melumpuhkan Pasar Induk Sangatta, Pedagang Pakaian Menjerit

Author

Ilustrasi Generated AI
KALTIM -
Perubahan pola belanja masyarakat Kutai Timur (Kutim) yang beralih ke platform digital kini menimbulkan krisis di Pasar Induk Sangatta.

Gelombang belanja online sejak pandemi melanda membuat pasar tradisional ini kian sepi, dengan Gedung Utama yang menjual sandang dan aksesoris menjadi area yang paling terpuruk.

Dari total 147 lods di gedung utama, hanya 97 yang masih beroperasi, menyisakan puluhan kios kosong.

Kepala UPT Pasar Induk Sangatta, Bohari, tidak menampik bahwa fenomena digitalisasi ini adalah musuh utama pedagang offline.

"Masyarakat sekarang kalau mau beli baju, sepatu, aksesori tidak harus ke pasar lagi. Banyak pilihan lewat online, lebih mudah diakses. Ini yang menjadi tantangan kami bagi Disperindag,” kata Bohari saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (29/10/2025).

Baca juga: Oknum Petugas Pasar Taman Citramas Loktuan 'Sikat' Rp 14 Juta dari Pedagang Baru Lewat Pungli Berkedok Sewa Lapak

Kelompok pedagang sandang dan aksesoris di gedung utama kini menjadi yang paling terdampak.

Mereka menjerit karena minimnya omzet. Banyak yang hanya mampu menjual satu hingga dua potong pakaian per hari, bahkan tak jarang dagangannya tidak laku sama sekali.

Kondisi ini diperparah dengan beban retribusi bulanan sebesar Rp2.500 per meter kios.

Akibat penjualan yang rendah, Bohari mengungkapkan bahwa sebagian besar pedagang di gedung utama menunggak pembayaran retribusi.

"Kadang ada yang tidak laku sama sekali, bayangkan. Jadi pakaian kalau pun laku untungnya berapa? Paling habis untuk makan. Kasihan sebenarnya,” terang Bohari, menyoroti ketidakseimbangan antara biaya operasional dan pendapatan pedagang.

Baca juga: Polemik Tarif Ojek Online, Amsindo Kaltim Dukung Penuh SK Gubernur Demi Kesejahteraan Driver

Kontras dengan gedung utama, area pasar basah yang menjual kebutuhan pokok seperti ikan, ayam, dan sembako justru tetap stabil dan menjadi pusat kunjungan paling ramai setiap hari.

Tingkat keterisian area ini masih aman dan pedagangnya tertib dalam memenuhi kewajiban retribusi harian.

Berbagai upaya telah dilakukan Pemkab Kutim, termasuk menyediakan fasilitas lengkap hingga menggelar event di dalam gedung.

Namun, menurut Bohari, upaya tersebut belum mampu mendongkrak aktivitas ekonomi secara signifikan.

Keramaian hanya terasa saat hari-hari besar seperti Lebaran dan Natal.

Untuk memastikan pedagang dapat bertahan di tengah perubahan zaman, UPT Pasar kini mencanangkan rencana untuk memperkuat pembinaan.

Bohari berharap agar pedagang dapat menyesuaikan diri dengan tren modern melalui pelatihan entrepreneurship dan pemasaran digital.

"Makanya terlintas dipikiran saya pedagang ini butuh juga mungkin semacam workshop atau edukasi. Minimal sosialisasi untuk menghadapi tantangan-tantangan (digital),” tutupnya, berharap digitalisasi menjadi jalan keluar agar pasar tradisional tidak sepenuhnya mati ditelan online shop.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU