Rabu, 17 DESEMBER 2025 • 16:17 WIB

Bayi Meninggal Usai Petugas Puskesmas Dituding Abaikan Pendarahan

Author

Puskesmas Gunung Tabur. (Foto: Istimewa)
KALTIM -
Kasus dugaan kelalaian fatal di UPT Puskesmas Gunung Tabur kini dalam proses audit resmi oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau.

Audit ini dipicu oleh insiden tragis meninggalnya seorang bayi dan kondisi kritis sang ibu, yang menurut keluarga, disebabkan oleh dugaan pembiaran dan pengabaian oleh petugas Puskesmas.

Pihak keluarga menuding bahwa nyawa bayi tersebut tidak tertolong lantaran petugas Puskesmas Gunung Tabur mengabaikan permintaan rujukan cepat, bahkan ketika sang ibu mengalami pendarahan hebat.

"Setelah pihak keluarga melancarkan protes keras, hingga terjadi adu mulut (baru rujukan diberikan). Setelah sampai di rumah sakit, dan penanganan cepat dilakukan, nyawa bayi dalam kandungan tidak bisa tertolong,” ujar salah seorang kerabat pasien, mengungkapkan kepedihan yang dirasakan keluarga.

Baca juga: Politisi Termuda Berau Ajak Anak Muda Rebut Ruang Kebijakan, Oktavia: Jangan Takut Politik Penuh Intrik!

Menurut keterangan keluarga, Puskesmas menolak memberikan rujukan ke RSUD dr Abdul Rivai meskipun ibu pasien sudah mengalami pendarahan.

Petugas Puskesmas disebut berkeras bahwa kondisi pasien masih dalam tahap pembukaan satu dan belum waktunya untuk dirujuk.

Keengganan Puskesmas merujuk pasien inilah yang dinilai keluarga sebagai kelalaian fatal, yang secara langsung berujung pada kematian bayi dan kondisi kritis sang ibu.

Kepala Puskesmas Gunung Tabur, I Made Mahendra, membenarkan adanya peristiwa yang memilukan ini.

Baca juga: Coklat Berau Mendunia! Diakui Merek Nasional, Kini DPRD Minta Skema Ekspor Kakao Segera Dioptimalkan

Ia mengakui bahwa persoalan tersebut kini menjadi bahan evaluasi dan telah dikoordinasikan dengan Dinkes Berau.

“Saat ini sedang dilakukan evaluasi dan audit internal dari Dinas Kesehatan,” kata I Made Mahendra pada Jumat (12/12/2025).

Mahendra menjelaskan, pihaknya selalu mengutamakan pelayanan terbaik.

Namun, insiden yang tidak diinginkan terjadi dan menjadi persoalan serius.

Ketika ditanya mengenai komplain dan tuntutan, Mahendra mengakui bahwa memang ada anggota keluarga pasien yang belum menerima atas kejadian tersebut dan pihaknya terus berupaya melakukan pendekatan secara kekeluargaan.

“Kalaupun ada (Gugatan), kami selalu berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan bagaimana selanjutnya. Karena kami di sini tidak berdiri sendiri,” pungkasnya, menegaskan bahwa penanganan lebih lanjut akan diserahkan kepada Dinkes.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU