Penayangan Film Dokumenter 'Mantra Berbenah' (Foto: Fergi Julian/INDOZONE)
KALTIM - Penayangan film dokumenter "Mantra Berbenah: Betulkah Polisi Mengayomi?" di Bontang memicu diskusi hangat tentang perilaku oknum aparat kepolisian.
Film ini menyoroti dugaan kekerasan yang dialami para aktivis saat menyuarakan aspirasi mereka.
Acara yang diselenggarakan oleh Fraksi Rakyat Bontang (FRB) ini menjadi wadah bagi para aktivis untuk berbagi pengalaman pahit mereka.
Salah satu narasumber, Sadly Jaya, mantan presiden mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bontang, menceritakan pengalamannya saat berunjuk rasa.
Baca juga: Review 'Unknown Number: High School Catfish', Film Dokumenter Netflix yang Bikin Merinding
Ia mengaku pernah mengalami kekerasan fisik.
"Saya pernah ikut demo di Mamuju, leher saya dipelintir oleh salah satu oknum polisi. Teman saya juga pernah dipukuli seperti maling, sampai meninggalkan bekas sepatu laras di bagian belakang tubuhnya," ungkap Sadly, menceritakan pengalaman pribadinya.
Menurut Sadly, intimidasi tidak hanya terjadi di lapangan.
Oknum aparat juga kerap melakukan intervensi hingga ke kampus, tempat kerja, bahkan mengintimidasi keluarga para aktivis.
Baca juga: CORTIS Buka-Bukaan Proses Debut Lewat Dokumenter “What We Want”
Ia menilai hal ini bertentangan dengan semboyan Polri yang seharusnya melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat.
"Dari film ini, kita belajar banyak tentang kasus-kasus yang dilakukan oleh oknum kepolisian. Reformasi di tubuh Polri sangat diperlukan demi kemajuan bangsa," tegas Sadly.
Acara ini diharapkan dapat membuka mata publik dan mendorong reformasi di tubuh kepolisian agar semboyan mereka benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Reporter : Fergi Julian
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung