20 finalis putra dan putri terbaik yang tampil di malam puncak pemilihan Duta Anti Narkoba Kota Bontang Tahun 2025. (Foto: Muhammad Olifiansyah/INDOZONE)
KALTIM - Setelah melalui proses seleksi yang ketat selama dua bulan, Malam Grand Final Pemilihan Duta Anti Narkoba Kota Bontang Tahun 2025 akhirnya digelar meriah pada Senin malam (17/11/2025) di Aula Dispopar Kota Bontang.
Acara ini merupakan puncak kolaborasi antara Dispopar Bontang dan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Bontang.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, yang turut didampingi Plt Kepala Dispopar Dasuki, Kepala BNNK Lulyana Ramdhani, Kasat Resnarkoba Polres Bontang Rihard Nixon, serta perwakilan instansi vertikal dan perusahaan.
Pemilihan Duta Anti Narkoba 2025 dimulai dengan antusiasme tinggi, di mana 140 peserta dari berbagai kategori (SMA, perguruan tinggi, dan umum) ikut mendaftar.
Baca juga: Pengedar Narkoba di Bontang Ditangkap, Sembunyikan Sabu di Botol Permen
Ratusan peserta ini harus melewati serangkaian tahapan penilaian yang intensif, meliputi sosialisasi di sekolah, seleksi berkas, head-to-head challenge, video challenge, hingga program Duta Anti Narkoba Go To School.
Dari proses panjang tersebut, terpilih 20 finalis putra dan putri terbaik yang berhak tampil di malam puncak.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni memberikan apresiasi tinggi kepada panitia atas pembekalan intensif yang diberikan selama dua bulan, mencakup public speaking, pembentukan karakter, dan pendalaman materi anti narkoba.
"Saya mengapresiasi seluruh finalis yang telah berproses dan saya berharap mereka menjadi agen perubahan yang kuat dalam gerakan anti narkoba," ucap Wali Kota Bontang.
Baca juga: Polda Kaltim Ungkap 224 Kasus Narkoba, Sita Lebih dari 5 Kg Sabu dalam Operasi Antik Mahakam 2025
Dalam sambutannya, Wali Kota Neni menegaskan peran strategis para Duta terpilih.
Ia mengingatkan bahwa meski prevalensi penggunaan narkoba di Bontang berada di angka 0,89 persen (lebih rendah dari rata-rata nasional 1,33 persen), capaian ini harus terus dipertahankan melalui kerja bersama.
Neni menyoroti dampak narkoba yang merusak otak dan masa depan, serta menekankan bahwa pencegahan harus dimulai dari unit terkecil yaitu keluarga.
Ia mengingatkan pentingnya dukungan keluarga, terutama dalam kondisi sosial seperti fatherless dan motherless, yang dapat melemahkan ketahanan keluarga.
"Anak-anak kita rentan dan mereka harus mendapatkan dukungan dari keluarga. Pencegahan dimulai dari rumah sebelum meluas ke lingkungan lainnya," tegas Neni.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung