Pedagang kembang api musiman di Samarinda. (Foto: Istimewa)
KALTIM - Suasana jelang pergantian tahun tidak membawa berkah bagi semua pedagang musiman.
Di Samarinda, pedagang kembang api mengeluhkan penurunan omzet yang signifikan, dan kondisi ini diduga kuat merupakan dampak dari imbauan larangan penggunaan kembang api oleh aparat keamanan.
Syamsudin, seorang pedagang kembang api musiman di Samarinda, mengaku penjualannya pada tahun 2025 ini jauh menurun dibandingkan perayaan tahun lalu.
Ia mengatakan minat masyarakat tidak seramai biasanya.
"Tahun lalu yang ramai, kalau tahun ini nggak terlalu,” ujarnya saat ditemui di lapak jualannya, Selasa (30/12/2025).
Baca juga: Omzet Anjlok 60 Persen, Pedagang Kembang Api Tenggarong Berharap Malam Terakhir Penjualan Moncer
Syamsudin, yang juga memiliki usaha warung nasi yang dikelola istrinya, memilih fokus di lapak kembang api.
Namun, ia menyadari bahwa kondisi sepinya penjualan tidak lepas dari faktor eksternal, yaitu adanya imbauan larangan menyalakan kembang api yang dikeluarkan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Ia menilai, imbauan tersebut membuat masyarakat enggan membeli karena khawatir melanggar aturan.
“Bisa jadi karena itu juga. Orang jadi takut belanja,” katanya.
Penurunan omzet yang dialaminya sangat signifikan.
Jika pada tahun sebelumnya omzet harian menjelang tahun baru bisa mencapai Rp4 juta hingga Rp5 juta, kini hanya berkisar antara Rp2 juta hingga Rp4 juta, bahkan sering kali di bawah angka tersebut.
“Dulu kalau sudah dekat begini banyak yang beli. Sekarang masih sepi,” ucap Syamsudin, yang telah berjualan kembang api secara rutin selama lebih dari 10 tahun.
Baca juga: ASTON Samarinda Ganti Kembang Api dengan Doa Bersama Tahun Baru
Meskipun penjualan lesu, Syamsudin berharap masih bisa menutup modal usahanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung