Pasar Taman Rawa Indah, Kota Bontang. (Foto: lamansitu.kemendag.go.id)
KALTIM - Di balik gemerlap statusnya sebagai salah satu kota industri paling maju di Indonesia, Kota Bontang menyimpan sebuah narasi ekonomi yang jauh lebih tua dan mendalam.
Di tengah ambisi pembangunan Kalimantan Timur sebagai pusat pemerintahan baru Indonesia, pasar tradisional di Bontang tetap berdiri kokoh sebagai benteng terakhir kedaulatan ekonomi rakyat.
Bukan sekadar tempat pertukaran materi, pasar-pasar ini adalah saksi bisu transformasi sosiologis masyarakat pesisir menjadi masyarakat industri modern.
Sejarah perdagangan di Bontang tidak bermula dari ruko-ruko permanen di pinggir jalan raya, melainkan dari pemukiman di atas air.
Jauh sebelum administrasi pemerintahan kota terbentuk secara formal, aktivitas ekonomi telah berdenyut di pemukiman tertua, Bontang Kuala.
Berdasarkan catatan sejarah budaya pesisir yang dihimpun dari profil Kelurahan Bontang Kuala, pasar pertama kali mewujud dalam bentuk dermaga kayu kecil.
Baca juga: Panduan Cerdas Belanja di Pasar Tradisional Kaltim: Dari Seni Menawar hingga Bocoran Harga 2026
Di sini, terjadi fenomena "Pasar Tumpah" di mana nelayan lokal menjajakan hasil laut segar langsung dari perahu mereka.
Mereka bertemu dengan para pedagang keliling yang menempuh perjalanan laut dari luar daerah untuk membawa komoditas yang tidak tersedia di Bontang, seperti beras, gula, kain, dan peralatan rumah tangga.
Pada era ini, proses barter masih lazim terjadi, menciptakan sistem ekonomi yang sangat bergantung pada kondisi alam dan pasang surut air laut.
Wajah ekonomi Bontang berubah secara drastis pada dekade 1970-an hingga 1980-an.
Kehadiran perusahaan industri skala global seperti PT Badak NGL dan PT Pupuk Kaltim menjadi magnet urbanisasi yang luar biasa.
Baca juga: Siap Sambut 2026, Intip Pesona 5 Keindahan Laut Kaltim yang Direkomendasikan Dispar untuk Keluarga
Dilansir melalui data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bontang, lonjakan jumlah penduduk di era tersebut menyebabkan kebutuhan akan bahan pangan meningkat berlipat ganda.
Kondisi ini memaksa pusat perdagangan yang tadinya bersifat pesisir untuk bergeser ke daratan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber