Kota Bontang Dari Udara. (Foto: ANTARA)
KALTIM - Menjadi perantau di Kota Bontang memang tampak menjanjikan dengan bayangan gaji besar dari sektor industri.
Namun, waspadalah! Tanpa strategi yang matang, impian mengumpulkan pundi-pundi rupiah bisa kandas karena biaya hidup yang sanggup "melahap" gaji Kamu dalam sekejap.
Bagi Kamu yang berencana mengadu nasib di tahun 2026, memahami realitas ekonomi di "Kota Taman" adalah harga mati.
Berikut adalah panduan jujur agar Kamu tidak terjebak dalam krisis finansial di tengah megahnya industri.
Berdasarkan data terbaru Disnaker, Upah Minimum Kota (UMK) Bontang ditetapkan sebesar Rp3.799.480,00.-
Angka ini memang tampak besar jika dibandingkan dengan daerah lain.
Namun, jangan salah sangka! Analisis ekonomi BPS Bontang menunjukkan bahwa biaya hidup layak bagi lajang di kota ini telah menyentuh angka Rp3,5 Juta per bulan.
Artinya, jika Kamu hidup "normal" tanpa penghematan, saldo tabungan Kamu hanya akan bertambah kurang dari Rp300 ribu setiap bulannya.
Sebuah kenyataan pahit bagi yang berharap cepat kaya dari merantau.
Harga kos di Bontang sangat ditentukan oleh zonasi.
Jika Kamu nekat mencari hunian di Bontang Utara yang menempel pada gerbang perusahaan, bersiaplah merogoh kocek Rp2 juta hingga Rp3,5 juta.
Bergeserlah ke arah Bontang Barat (Telihan/Kanaan). Dengan sedikit usaha, Kamu masih bisa mendapatkan kos standar di angka Rp900.000, yang artinya Kamu menyelamatkan lebih dari sepertiga gaji Kamu.
Bontang memiliki harga makanan restoran yang cukup tinggi, di mana sekali makan bisa menghabiskan Rp45.000. Namun, ada satu celah: Ikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber