Destinasi Bontang Kuala tetap berdiri sebagai simbol permukiman nelayan di atas air. (Foto: facebook.com/Novi Drone)
KALTIM - Siapa sangka, kota yang kini dikenal sebagai salah satu daerah terkaya di Indonesia dengan infrastruktur kelas dunia ini dulunya hanyalah sebuah desa nelayan yang sunyi.
Transformasi Bontang dari perkampungan pesisir di bawah kekuasaan Kesultanan Kutai Kartanegara menjadi raksasa industri nasional merupakan salah satu babak paling menarik dalam sejarah ekonomi Indonesia.
Berikut adalah fakta-fakta sejarah yang mengubah nasib Bontang selamanya:
Asal-usul nama Bontang menyimpan cerita tentang keterbukaan.
Salah satu versi populer menyebutkan Bontang adalah akronim dari "Bond" (ikatan) dan "Tang" (pendatang).
Baca juga: 6 Perguruan Tinggi Negeri Terbaik di Kalimantan Timur
Istilah ini mencerminkan semangat persatuan para pendatang dari berbagai suku yang datang untuk menetap dan membangun kehidupan bersama di tanah ini.
Wajah Bontang berubah total ketika pemerintah pusat menetapkan wilayah ini sebagai pusat pengolahan sumber daya alam strategis.
Pada tahun 1974, PT Badak NGL resmi berdiri untuk mengolah gas alam cair, disusul dengan pendirian PT Pupuk Kaltim pada tahun 1977.
Kehadiran dua perusahaan raksasa ini menjadi mesin utama yang menarik ribuan tenaga kerja terampil dan mengubah lanskap desa menjadi kawasan industri modern.
Baca juga: Menelusuri Jejak Mistis Gunung Menangis di Jalur Bontang-Samarinda
Pesatnya kemajuan ekonomi membuat status administrasi Bontang terus meningkat.
Setelah sempat menjadi bagian dari Kabupaten Kutai, Bontang resmi ditetapkan sebagai Kota Otonom pada 12 Oktober 1999 melalui UU No. 47 Tahun 1999.
Tanggal inilah yang hingga kini dirayakan sebagai hari jadi kota dengan penuh kebanggaan oleh warganya.
Meski memiliki luas wilayah daratan yang tergolong kecil dibandingkan kota lain di Kalimantan Timur, Bontang dijuluki sebagai kota kecil-kecil cabai rawit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber