Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 21 JUNI 2026 • 12:19 WIB

Nelayan Berau Komit Jaga Penyu

Nelayan Berau Komit Jaga PenyuPenyu hijau (Chelonia mydas). (Foto: ANTARA)
KALTIM -
Kabupaten Berau di Kalimantan Timur kembali mengukuhkan posisinya sebagai habitat terpenting bagi populasi penyu hijau (Chelonia mydas) terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Menjadi bagian tak terpisahkan dari bentang laut Sulu-Sulawesi di kawasan Segitiga Terumbu Karang, wilayah ini diakui dunia sebagai pusat keanekaragaman haiati laut paling kaya di muka bumi sekaligus jalur migrasi vital bagi berbagai spesies laut global.

Guna memastikan kelestarian aset alam bernilai tinggi tersebut, serangkaian kegiatan pemantauan dan survei mendalam telah dilakukan oleh tim lintas sektor.

Kerja sama ini melibatkan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kaltim, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak di bawah KKP RI, serta didukung penuh oleh Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle.

Dari total 27 lokasi pemantauan yang tersebar mulai dari Pulau Sangalaki, Teluk Sulaiman, hingga sekitar Kampung Balikukup, sebanyak 26 lokasi di antaranya dinyatakan berada dalam kategori “hijau”.

Status ini menandakan bahwa kondisi pantai peneluran di kawasan tersebut masih sangat sehat, ideal, memiliki vegetasi alami yang teduh, kemiringan pantai yang pas, serta minim dari intervensi atau gangguan aktivitas manusia.

Baca juga: Petugas Damkar di Berau Bongkar AC yang Jadi Markas Enam Ekor Ular

Kesadaran Nelayan Tinggi, 98 Persen Paham Hukum Perlindungan Penyu

Dampak positif dari konsistensi edukasi dan pengawasan ketat ini terlihat jelas dari hasil survei persepsi yang melibatkan 75 nelayan di kawasan Balikukup, Derawan, Maratua, Teluk Sulaiman, hingga Biduk-Biduk.

Hasil wawancara menunjukkan fakta membanggakan di mana 98 persen responden telah mengetahui bahwa menangkap penyu maupun mengambil telurnya merupakan tindakan ilegal yang melanggar hukum dan merusak alam.

Para nelayan juga mengaku masih sering menjumpai penyu hijau dan penyu sisik sepanjang tahun, bahkan banyak yang mengamati bahwa jumlah populasi penyu perlahan mulai meningkat dibandingkan beberapa tahun silam.

Manajer Senior Perlindungan Laut dari YKAN, Yusuf Fajariyanto, menegaskan bahwa keberhasilan ini bertumpu pada dua pilar utama, yakni dukungan teknologi data dan peran aktif masyarakat pesisir yang berinteraksi langsung dengan habitat penyu setiap harinya.

“Temuan sebanyak lebih dari 913 individu penyu dalam penelitian ini membuktikan bahwa Berau adalah rumah yang sangat baik bagi mereka, dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk terus menjaganya,” kata Yusuf Fajariyanto.

Baca juga: Gunakan Modus Ancam Sebar Berita, Wartawan Gadungan di Berau Peras Warga Rp3 Juta

Pemanfaatan Teknologi Drone Berhasil Petakan 913 Penyu

Dalam melaksanakan pemantauan berskala besar ini, tim peneliti mengandalkan kemajuan teknologi modern berupa pesawat nirawak (drone).

Penggunaan teknologi ini terbukti efektif melintasi area luas yang sulit diakses perahu atau berjalan kaki, serta mampu merekam gambar dengan ketelitian tinggi beresolusi 1,5 hingga 5 sentimeter yang dapat membedakan akurat antara tubuh penyu dengan karang laut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA News Kalimantan Timur

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Nelayan Berau Komit Jaga Penyu

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!