INDOZONE - Mengenakan batik hijau, senyum Ketua PMI Kota Malang, Imam Bukhori, memancarkan ketenangan yang kontras dengan hiruk pikuk di balik layar pelayanan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Malang.
Di usia 73 tahun (kelahiran 16 September 1952), Pak Imam adalah seorang veteran kemanusiaan yang perjalanannya mencerminkan esensi PMI dengan visi melayani kedaruratan dengan sepenuh hati.
Di bawah kepemimpinannya, PMI Kota Malang bukan hanya sekadar unit penampung darah, melainkan pilar pelayanan kesehatan yang kini merangkul isu-isu modern, termasuk kesehatan mental yang sedang marak.
Baca juga: Investasi di Bestprofit Future (BPF) Malang Didominasi Gen Z
PMI Malang: Lebih dari Sekadar Darah
PMI Kota Malang beroperasi dalam dua unit utama: Unit Markas dan Unit Donor Darah.
“Utamanya adalah melayani kedaruratan," tegas Imam.
Namun, layanan PMI telah meluas hingga mencakup Klinik Umum, Klinik Ibu dan Anak, serta Psikologi.
Layanan psikologi, yang kini mendapat sorotan tajam menyusul tragedi bunuh diri seorang mahasiswa di Malang baru-baru ini, yang menjadi krusial.
"Isu psikologi sedang marak. Kami punya klinik psikologi, namun untuk memanfaatkannya, perlu adanya perjanjian terlebih dahulu," jelasnya.
Selain layanan medis, PMI Kota Malang juga aktif dalam diklat, diantaranya pendidikan dan pelatihan, bagi para relawannya, memastikan kesiapan mereka dalam berbagai situasi, mulai dari kebencanaan hingga donor darah.
Mitos dan Realita Biaya Pengganti Darah
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Ketua PMI Kota Malang, Imam Bukhori adalah meluruskan kesalahpahaman publik terkait biaya pengganti darah sebesar Rp490.000 per kantong, yang berlaku seragam di seluruh Indonesia.
Pada tahun 2024, PMI Kota Malang memproduksi 81.000 kantong darah dan melayani 71 rumah sakit di Malang Raya.
Namun, muncul image di masyarakat: "Darah didonorkan gratis, kenapa harus membayar untuk penggantian?"
Dengan senyum sabar, Pak Imam menjelaskan:
“Darah yang diberikan kepada pasien telah melewati empat kali pemeriksaan pararel untuk memastikan bebas dari penyakit menular, ini memakan biaya operasional yang sangat krusial.”
“Kami mohon bantuan masyarakat untuk menyampaikan bahwa biaya pengganti itu digunakan untuk operasional," ungkapnya.
Dari Trauma Jarum Besar menjadi Pendonor Aktif
Perjalanan pribadi Imam Bukhori sebagai pendonor adalah kisah inspiratif tentang mengatasi ketakutan, ia telah melakukan donor darah hampir 50 kali.
“Awalnya saya trauma, melihat darah dan jarum suntik yang besar. Kemungkinan bisa pingsan kalau baru pertama kali," kenangnya.
Namun, ia menyaksikan sendiri bagaimana teknologi jarum suntik yang tajam dari Thailand kini meminimalkan rasa sakit dan trauma.
Kini, karena faktor usia (di atas 60 tahun), Imam tidak lagi aktif mendonorkan darah secara rutin, mematuhi batas usia 17–60 tahun (meski 60 tahun lebih masih diizinkan dengan interval lebih jarang, boleh 3–4 bulan sekali).
Hati Nurani dan Jiwa Relawan
Imam mulai menjadi pendonor sejak SMA dan bergabung dalam kepengurusan PMI sejak tahun 2007.
Ia ditunjuk sebagai Ketua PMI Kota Malang pada tahun 2021 dan dilantik pada tahun 2022.
Kesulitan terbesar dalam mengelola PMI? Relawan.
"Karena relawan tidak dibayar, kami pakai hati nurani. Ini termasuk pendonor darah yang bahkan ada yang sudah mencapai 100 kali," tutupnya.
*Artikel ini merupakan hasil dari Uji Kompetensi Wartawan (UKW) ke-59 PWI Malang Raya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung