KALTIM - Fenomena pernikahan dini di kalangan remaja mendapat sorotan tajam dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang.
Melalui kegiatan Bimbingan Pra Nikah Remaja Usia Sekolah (BRUS), Pemkot Bontang secara terang-terangan membongkar tiga risiko besar yang mengancam masa depan remaja jika nekat menikah sebelum mencapai kematangan.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Gerakan Keluarga Sakinah (GKS) bekerja sama dengan DP3AKB ini berlangsung di Aula Kantor MUI, Selasa (9/12/2025) lalu, dan dihadiri ratusan pelajar SLTA.
Pemkot pun tegas menyerukan slogan “Berilmu Dulu, Nikah Kemudian” untuk menyelamatkan generasi muda dari bahaya tersebut.
Baca juga: Polres Bontang Sita Ribuan Pil LL di Rusunawa dan Pemukiman Warga
1. Stunting Mengintai Buah Hati
Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra, Dasuki, yang membuka acara mewakili Wali Kota, mengungkapkan bahwa risiko paling vital dari pernikahan dini adalah ancaman kesehatan generasi berikutnya, yaitu stunting.
“Kegiatan ini erat kaitannya dengan pencegahan stunting. Kesiapan usia reproduksi dan kematangan psikologis orang tua sangat menentukan lahirnya anak yang sehat dan cerdas,” jelas Dasuki.
Menurutnya, angka stunting di Bontang sempat berada di level tinggi, dan penundaan usia nikah menjadi strategi utama pemerintah untuk menekan angka tersebut.
Pernikahan dini diyakini meningkatkan kerentanan anak mengalami kekurangan gizi kronis.
Baca juga: 188 Anak Disabilitas Bontang Unjuk Gigi di Kejuaraan Paralimpik 2025
2. Tertinggal dalam Persaingan Ekonomi dan Kepemimpinan
Dasuki menegaskan bahwa menikah di usia sekolah sama dengan mematikan peluang masa depan.
Ia mengingatkan bahwa persaingan ke depan semakin ketat dan menuntut persiapan akademik yang maksimal.
"Kalian adalah generasi yang disiapkan untuk memegang estafet kepemimpinan. Di otak kalian tidak boleh ada kata ‘nanti lulus mau menikah’. Lulus sekolah harus lanjut kuliah! Jika kalian tidak disiplin dan ‘keras’ terhadap diri sendiri dalam hal belajar, kalian akan tertinggal oleh zaman,” tegasnya.
Pernikahan dini hampir pasti menghambat kesempatan menuntut ilmu setinggi-tingginya, padahal pendidikan adalah kunci kemandirian ekonomi.
3. Gagal Beradaptasi dengan Tantangan Era Digital
Dasuki juga menyoroti bahwa tantangan pergaulan bebas, penyalahgunaan narkotika, dan arus negatif di era digital jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya.
“Zaman kalian berbeda dengan zaman kami dulu. Tantangannya luar biasa. Pemerintah sangat berharap kalian bisa beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa terbawa arus negatif,” ujarnya.
Kematangan mental dan pendidikan yang cukup diperlukan agar remaja memiliki bekal yang kuat untuk beradaptasi, mengelola tantangan hidup, dan membangun rumah tangga yang stabil, sesuatu yang sulit dicapai jika menikah sebelum bekal ilmu terpenuhi.
Pemkot Bontang berharap, melalui bimbingan pra nikah ini, ratusan pelajar dapat membuang jauh-jauh rencana pernikahan dini dan memanfaatkan masa mudanya untuk fokus pada pendidikan.
Narasumber dari Kemenag, Dinas Kesehatan, KUA, dan Dharma Wanita Persatuan turut dihadirkan untuk memberikan pemahaman komprehensif kepada peserta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: PPID Kota Bontang