Selasa, 20 JANUARI 2026 • 18:08 WIB

Bukan Hantu, Film Kuyank Bedah Sisi Manusia di Balik Urban Legend Paling Mencekam dari Kalimantan

Author

Film produksi DHF Entertainment berjudul Kuyank. (Foto: IMDB)
KALTIM -
Selama puluhan tahun, masyarakat mengenal sosok Kuyang sebagai hantu perempuan menyeramkan yang terbang dengan organ dalam terurai.

Namun, sebuah perspektif baru coba ditawarkan oleh industri film nasional.

Melalui film "Kuyank", urban legend paling mencekam dari tanah Kalimantan ini dibedah bukan sebagai makhluk halus, melainkan sebagai sosok manusia.

Film produksi DHF Entertainment yang merupakan prekuel dari Saranjana: Kota Ghaib ini dijadwalkan tayang mulai 29 Januari 2026.

Sutradara Johansyah Jumberan mencoba menggali sisi drama kemanusiaan di balik mitos yang selama ini hanya dikenal lewat kengeriannya saja.

Baca juga: Pernah Dengar Eska Misteri? Ini Alasan Kenapa Program Radio Ini Jadi Urban Legend Paling Ikonik di Kota Taman

Berbeda dengan narasi urban legend pada umumnya yang berfokus pada ketakutan masyarakat, film ini mengambil sudut pandang atau Point of View (POV) dari sang pelakunya sendiri.

Pemeran utama, Putri Intan Kasela, menjelaskan bahwa karakter Rusmiati yang ia perankan adalah bukti bahwa Kuyang memiliki sisi perasaan dan konflik batin.

"Orang lain tahu kan biasanya Kuyang itu hantu. Di film ini kita tegaskan bahwa Kuyang ini bukan hantu, dia itu manusia yang terjerumus," tegas Putri.

Aktris Ochi Rosdiana juga menambahkan bahwa film ini berupaya meluruskan persepsi publik.

Menurutnya, sosok ini adalah "hantu manusia" atau seseorang yang sedang mengkaji ilmu hitam tertentu hingga mencapai titik di mana ia kehilangan kemanusiaannya.

Baca juga: Tiga Generasi Perempuan Hebat Bagikan Kunci Sukses di Industri Film dalam Diskusi FORWAN di Uhamka

Demi menjaga keaslian cerita, tim produksi tidak main-main.

Mereka melakukan riset langsung ke wilayah Nagara dan Kandangan, Kalimantan Selatan.

Kawasan ini sejak lama dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai lokasi asli berkembangnya urban legend tersebut.

Dari hasil perjumpaan dengan warga lokal, film ini memasukkan detail-detail fisik yang jarang diketahui publik.

"Karena dia malamnya lepas kepala, di lehernya itu pasti ada bekasan (tanda). Itu salah satu ciri yang kami angkat berdasarkan kepercayaan di sana," jelas Putri.

Menghidupkan urban legend ini di layar lebar menuntut totalitas tinggi.

Syuting dilakukan di medan asli Kalimantan yang didominasi rawa dan sungai.

Tantangan teknis seperti suara perahu klotok hingga kondisi fisik pemain yang harus terus-menerus basah menjadi makanan sehari-hari.

Baca juga: Siap-Siap Baper! Film 'Sore: Istri dari Masa Depan' Tayang di Netflix Awal Januari 2026

"Bisa lima hari lima malam benar-benar basah terus karena aku ada adegan di atas gentong," kenang Putri menggambarkan betapa beratnya menghidupkan karakter Rusmiati di tengah alam liar.

Melalui film ini, penonton diajak berefleksi bahwa horor yang paling nyata seringkali berasal dari keputusan ceroboh manusia itu sendiri.

Karakter Rusmiati digambarkan mengambil pilihan hidup yang salah tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjangnya.

Dengan perpaduan riset budaya yang kuat dan drama yang menyentuh, Kuyank diharapkan tidak hanya menjadi tontonan yang menakutkan, tetapi juga memberikan pemahaman baru tentang salah satu urban legend terbesar di Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU