Jumat, 06 FEBRUARI 2026 • 00:38 WIB

Kumpulan Mitos dan Legenda Bontang yang Belum Banyak Diketahui

Author

Kasus yang paling autentik adalah persahabatan antara Pak Ambo dan Buaya Riska. (Foto: ANTARA)
KALTIM -
Kota Bontang tidak hanya berdiri di atas pondasi industri gas dan pupuk, tetapi juga di atas fondasi cerita rakyat yang telah mengakar selama berabad-abad.

Dari pesisir hingga ke jantung kawasan industri, narasi mengenai masa lalu dan kekuatan alam tetap terjaga melalui tutur lisan warga setempat.

Berikut adalah rangkuman versi Indozone Kaltim tentang mitos dan legenda yang membentuk identitas Kota Taman:

1. Tragedi di Balik Pasir Putih Beras Basah

Pulau Beras Basah merupakan destinasi unggulan Kalimantan Timur. Namun, menurut catatan sejarah lisan Kesultanan Kutai Kartanegara, nama pulau ini bukan sekadar kiasan.

Legenda menceritakan sebuah kapal pengangkut beras milik Kesultanan yang karam akibat badai besar.

Baca juga: Sisi Mistis Smanda Bontang yang Melegenda di Kalangan Pelajar

Tumpahan beras tersebut konon membukit dan memutih, yang secara simbolis menjadi pasir putih yang kita lihat sekarang.

Hingga kini, tokoh masyarakat setempat sering mengingatkan pengunjung untuk menjaga etika dan tidak membawa pulang benda apa pun dari pulau tersebut sebagai bentuk penghormatan.

2. Hubungan Sedarah dengan Buaya Guntung

Fenomena hubungan manusia dengan buaya muara di Kelurahan Guntung telah menjadi perhatian dunia.

Dinas Pariwisata Kota Bontang dan para sesepuh Guntung mencatat adanya kepercayaan bahwa beberapa ekor buaya merupakan saudara kembar gaib dari warga tertentu.

Baca juga: Menelusuri Jejak Mistis Gunung Menangis di Jalur Bontang-Samarinda

Kasus yang paling autentik adalah persahabatan antara Pak Ambo dan Buaya Riska.

Mitos ini berfungsi sebagai insting konservasi alami, warga dilarang keras berkata kasar atau berperilaku buruk di sungai, yang secara tidak langsung menjaga kelestarian ekosistem sungai Guntung.

3. Etika Pesisir di Bontang Kuala

Di pemukiman atas air Bontang Kuala, mitos menjadi pedoman perilaku harian.

Lembaga Adat Kutai Bontang Kuala menjelaskan bahwa larangan membuang air cucian ikan tanpa permisi saat Maghrib bertujuan untuk menghindari gangguan makhluk laut.

Secara logika, tradisi ini mengajarkan kebersihan dan disiplin waktu bagi masyarakat pesisir.

Kepatuhan ini mencapai puncaknya pada ritual tahunan Pesta Laut (Bebalai), sebuah acara yang diakui secara nasional sebagai bagian dari warisan budaya tak benda.

4. Etimologi: Antara "Bondang" dan "Perserikatan"

Mengenai asal-usul nama kota, Pemerintah Kota Bontang melalui dokumen sejarah lokal merujuk pada dua versi.

Versi pertama adalah Bondang (bahasa lokal) yang berarti kumpulan orang yang bersatu.

Baca juga: Bukan Hantu, Film Kuyank Bedah Sisi Manusia di Balik Urban Legend Paling Mencekam dari Kalimantan

Versi kedua adalah pengaruh Belanda, yaitu Bon (ikatan) dan Tang (tangga/persinggahan), yang menggambarkan posisi strategis Bontang sebagai pelabuhan perdagangan di masa lampau.

5. Misteri Jalur Industri

Seiring berkembangnya zaman, muncul urban legend di area industri.

Para pekerja sering menceritakan pengalaman ganjil di jalur penghubung pabrik saat shift malam.

Meski bersifat anekdot, cerita ini telah menjadi bagian dari budaya pop para pekerja industri di Bontang, yang sering kali dikaitkan dengan sejarah lahan sebelum menjadi kawasan pabrik yang modern.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU