KALTIM - Teknologi kamera jebak (camera trap) dan bioakustik yang dipasang oleh tim peneliti gabungan berhasil menangkap bukti keberadaan predator langka yang kian sulit ditemui, seperti Macan Dahan (Neofelis diardi) dan Kucing Merah (Catopuma badia), di Bentang Alam Wehea-Kelay.
Penelitian tematik biodiversitas tahun 2025 yang dilakukan oleh Universitas Mulawarman (Unmul) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) ini berhasil mengidentifikasi total 1.618 jenis flora dan fauna.
Penemuan ini menjadi bukti otentik bahwa hutan Kaltim masih menjadi rumah yang aman bagi spesies-spesies yang terancam punah.
Rektor Unmul, Prof. Abdunnur, menjelaskan bahwa satwa-satwa eksotis ini ditemukan di kawasan seluas 532.143 hektare yang sebagian besar statusnya berada di luar kawasan konservasi resmi.
Meski hanya 19 persen yang berstatus hutan lindung, sisanya yang berupa area konsesi dan kelola masyarakat terbukti masih menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi.
Baca juga: Hutan Kota Berau atau Tambang Tersembunyi? Sindiran Menohok Melanie Subono: Keren Ya Hutan Kotanya!
Selain kucing-kucing hutan yang langka, kamera peneliti juga merekam kehadiran satwa ikonik lainnya, seperti Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus morio), Lutung Kutai (Presbytis canicrus), Trenggiling dan Beruang Madu, Rangkong Gading serta Bangau Storm.
Keberhasilan memotret aktivitas satwa penyendiri (solitary) ini tidak lepas dari metode riset modern.
Peneliti Ahli Utama BRIN, Tri Atmoko, mengungkapkan bahwa penggunaan teknologi sensor gerak dan perekam suara bioakustik sangat membantu dalam mendata satwa yang sulit didekati manusia.
"Temuan terbaru ini menambah 275 jenis flora dan fauna jika dibandingkan dengan penelitian tahun 2016. Ini adalah peningkatan signifikan yang menunjukkan betapa pentingnya menjaga koridor hutan ini," jelas Atmoko.
Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, menekankan bahwa keberadaan predator seperti Macan Dahan dan Kucing Merah merupakan indikator bahwa ekosistem di Wehea-Kelay masih berfungsi dengan baik.
Selain sebagai habitat, kawasan ini adalah hulu vital bagi Sungai Mahakam dan Sungai Segah yang menyokong kehidupan ribuan masyarakat di Berau dan Kutai Timur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA News Kalimantan Timur