Kamis, 04 JUNI 2026 • 05:17 WIB

Warisan Budaya Kaltim yang Kini Dituntut Dinamis

Author

Alat musik tradisional khas suku Dayak bernama Sampe. (Foto: Ahmad Rifandi/ANTARA)
KALTIM -
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Kaltim terus bergerak aktif dalam merawat dan melestarikan Sampe, alat musik tradisional khas suku Dayak.

Instrumen petik ini dinilai bukan sekadar alat musik biasa, melainkan bagian krusial dari warisan budaya yang kini dituntut untuk dilestarikan secara dinamis dan adaptif agar tidak punah ditelan zaman.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kaltim, Lestari, menegaskan bahwa strategi perlindungan terhadap instrumen legendaris ini tidak boleh dibiarkan pasif di dalam ruang pameran.

Eksistensi seni tradisional harus tetap melekat dan hidup berdampingan dengan dinamika sosial masyarakat modern.

"Pelestarian Sampe tidak cukup hanya dengan memasukkannya ke dalam etalase museum, melainkan harus memastikan bahwa ekosistem budayanya tetap bernapas di tengah masyarakat," ujar Lestari di Samarinda.

Baca juga: Menelusuri Sejarah, Evolusi, dan Peran Strategis Pasar Tradisional Bontang di Era Modern

Jejak Interaksi dan Makna Ukiran Ragam Hias

Alat musik petik yang memiliki keragaman nama di berbagai daerah, seperti Sampek, Sape, Sampe, maupun Kecapi, ini merekam jelas jejak interaksi mendalam antara manusia, alam, dan lingkungan sosial.

Terbuat dari bahan kayu pilihan langsung dari rimba belantara Kalimantan, instrumen ini memegang peranan sakral dalam struktur adat.

  1. Sentuhan Magis: Memiliki relasi spiritual dan magis yang sangat kuat bagi fondasi peradaban serta ritual adat masyarakat Dayak.
  2. Motif Ragam Hias: Ukiran dan ragam hias pada tubuh kayu Sampe merupakan simbolisasi dari daya upaya, kebesaran, serta keagungan masyarakat yang hidup harmonis dengan alam sekelilingnya.

Baca juga: Panduan Cerdas Belanja di Pasar Tradisional Kaltim: Dari Seni Menawar hingga Bocoran Harga 2026

Hindari Pelestarian Kaku Demi Cegah Sekat Primordial

Lestari mengingatkan bahwa ancaman terbesar dalam upaya mempertahankan warisan leluhur ini justru sering kali lahir dari pendekatan pelestarian yang kaku tanpa menyentuh partisipasi aktif masyarakat akar rumput.

Oleh sebab itu, posisi pemerintah diposisikan sebagai fasilitator yang mengakomodasi peran masyarakat dari bawah (bottom-up).

Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk tidak terjebak pada sifat inersia (keengganan untuk bergerak maju).

Sikap tersebut dikhawatirkan dapat memicu pengerasan identitas primordial yang berisiko mengancam integrasi sosial budaya di Indonesia.

Menurutnya, kebudayaan yang berpadu dengan karya kreatif seperti Sampe harus dipandang sebagai proses transformasi yang dinamis, bukan sekadar benda mati masa lalu.

Integrasi Sistemik Jalur Pendidikan dan Ruang Publik

Guna memastikan regenerasi pemain dan pembuat Sampe tidak terputus, Balai Pelestarian Kebudayaan mendorong strategi pengarusutamaan budaya secara sistemik sejak usia dini.

"Pengarusutamaan kebudayaan tersebut harus ditanamkan secara sistemik sejak dini melalui jalur pendidikan agar perlindungan terhadap Sampe sejalan dengan pemanfaatan di masyarakat," ungkap Lestari.

Selain diintegrasikan ke dalam lembaga pendidikan formal, eksistensi ekosistem budaya Sampe akan terus ditegakkan melalui berbagai lini ruang publik.

Mulai dari panggung perayaan adat yang sakral, ajang pariwisata daerah, hingga berbagai atraksi budaya populer kontemporer agar tetap relevan di mata generasi muda.‎

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU