Ilustrasi Generated AI
KALTIM - Perubahan pola belanja masyarakat Kutai Timur (Kutim) yang beralih ke platform digital kini menimbulkan krisis di Pasar Induk Sangatta.
Gelombang belanja online sejak pandemi melanda membuat pasar tradisional ini kian sepi, dengan Gedung Utama yang menjual sandang dan aksesoris menjadi area yang paling terpuruk.
Dari total 147 lods di gedung utama, hanya 97 yang masih beroperasi, menyisakan puluhan kios kosong.
Kepala UPT Pasar Induk Sangatta, Bohari, tidak menampik bahwa fenomena digitalisasi ini adalah musuh utama pedagang offline.
"Masyarakat sekarang kalau mau beli baju, sepatu, aksesori tidak harus ke pasar lagi. Banyak pilihan lewat online, lebih mudah diakses. Ini yang menjadi tantangan kami bagi Disperindag,” kata Bohari saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (29/10/2025).
Kelompok pedagang sandang dan aksesoris di gedung utama kini menjadi yang paling terdampak.
Mereka menjerit karena minimnya omzet. Banyak yang hanya mampu menjual satu hingga dua potong pakaian per hari, bahkan tak jarang dagangannya tidak laku sama sekali.
Kondisi ini diperparah dengan beban retribusi bulanan sebesar Rp2.500 per meter kios.
Akibat penjualan yang rendah, Bohari mengungkapkan bahwa sebagian besar pedagang di gedung utama menunggak pembayaran retribusi.
"Kadang ada yang tidak laku sama sekali, bayangkan. Jadi pakaian kalau pun laku untungnya berapa? Paling habis untuk makan. Kasihan sebenarnya,” terang Bohari, menyoroti ketidakseimbangan antara biaya operasional dan pendapatan pedagang.
Baca juga: Polemik Tarif Ojek Online, Amsindo Kaltim Dukung Penuh SK Gubernur Demi Kesejahteraan Driver
Kontras dengan gedung utama, area pasar basah yang menjual kebutuhan pokok seperti ikan, ayam, dan sembako justru tetap stabil dan menjadi pusat kunjungan paling ramai setiap hari.
Tingkat keterisian area ini masih aman dan pedagangnya tertib dalam memenuhi kewajiban retribusi harian.
Berbagai upaya telah dilakukan Pemkab Kutim, termasuk menyediakan fasilitas lengkap hingga menggelar event di dalam gedung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber