Wakapolresta Samarinda, AKBP Heri Rusyaman. (Foto: Istimewa)
KALTIM - Polresta Samarinda mengungkapkan keprihatinan mendalam terkait maraknya aksi arogansi dan pelanggaran lalu lintas oleh rombongan pengantar jenazah di wilayahnya.
Kekesalan ini memuncak setelah insiden pemukulan pengendara motor oleh anggota rombongan di Jalan Sultan Hasanuddin, yang terekam CCTV dan viral untuk kedua kalinya dalam waktu berdekatan.
Wakapolresta Samarinda, AKBP Heri Rusyaman, menegaskan bahwa pihaknya siap menindaklanjuti seluruh insiden.
Baca juga: Ternyata Ini Modus Favorit Maling Motor di Samarinda yang Berhasil Dibongkar Polresta
Ia bahkan menyoroti ironi layanan kepolisian
"Pengawalan dari polisi itu gratis, tidak ada pungutan sama sekali. Mobil kami juga banyak yang siap digunakan. Saya heran kenapa masyarakat jarang meminta pengawalan resmi,” ucap AKBP Heri, mengimbau masyarakat agar memanfaatkan fasilitas ini.
Pelaku pemukulan yang diketahui bernama Bahtiar Sobolla telah diamankan oleh Polsek Samarinda Seberang. (Foto: Istimewa)
Terkait insiden viral pada Jumat (14/11), pelaku pemukulan yang diketahui bernama Bahtiar Sobolla telah diamankan oleh Polsek Samarinda Seberang. Kapolsek Samarinda Seberang, AKP A Baihaki, menjelaskan bahwa penangkapan dilakukan setelah identifikasi melalui CCTV.
Bahtiar mengaku pemukulan dilakukan spontan karena kesal pemotor tidak mau berhenti saat rombongan melawan arus.
Baca juga: Disdag Samarinda Larang Keras Ritel Modern Buka 24 Jam, Perwali 2015 Jadi Acuan
Namun, karena korban hingga kini belum membuat laporan resmi, polisi terpaksa memulangkan pelaku setelah ia membuat video permintaan maaf dan klarifikasi.
Kanit Turwali Polresta Samarinda, Iptu Ismail Marzuki, kembali mengimbau korban untuk segera melapor agar proses hukum penganiayaan ringan tersebut dapat dilanjutkan.
Insiden pemukulan pengendara motor oleh anggota rombongan di Jalan Sultan Hasanuddin, yang terekam CCTV dan viral. (Foto: Istimewa)
AKBP Heri Rusyaman menekankan bahwa maraknya pengawalan iring-iringan jenazah secara mandiri oleh masyarakat tanpa sepengetahuan polisi menjadi sumber masalah.
Banyak warga yang belum memahami aturan pengawalan, sehingga sering terjadi tindakan arogan.
“Banyak dari masyarakat yang mengawal sendiri tanpa mengikuti prosedur yang ada. Yang paling penting, tolong jangan arogan. Cara-cara memaksa atau mengancam orang lain itu tidak boleh. Jangan sampai ada tindakan melawan hukum,” tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber