Batu bara menyumbang hampir 70 persen dari total nilai ekspor di Kalimantan Timur. (Foto: Novi Abdi/ANTARA)
KALTIM - Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN) mendorong pemerintah untuk segera mengeksekusi kebijakan bea ekspor batu bara.
Sebagai Kalimantan Timur pusat ekspor batu bara Indonesia, wilayah ini memegang peranan krusial dalam stabilitas fiskal nasional, namun ketergantungan yang tinggi pada komoditas "emas hitam" ini perlu segera diimbangi dengan akselerasi energi bersih.
SUSTAIN menilai, keuntungan luar biasa (super normal profit) yang dinikmati industri batu bara saat ini adalah momentum paling tepat untuk memperkuat pendanaan transisi energi nasional.
Saat ini, batu bara menyumbang hampir 70 persen dari total nilai ekspor di Kalimantan Timur.
Permintaan yang tetap kuat dari Tiongkok dan India sebagai pasar utama terus mendorong pertumbuhan volume ekspor, terutama pada triwulan IV 2025.
"Permintaan dari kedua negara itu mendorong pertumbuhan kembali volume ekspor batu bara Kaltim. Namun, ketergantungan ini membuat Kaltim menjadi wilayah yang paling terdampak jika kebijakan bea ekspor terus ditunda," ujar Direktur Eksekutif SUSTAIN, Tata Mustasya, Senin (30/03/2026).
Baca juga: Coklat Berau Mendunia! Diakui Merek Nasional, Kini DPRD Minta Skema Ekspor Kakao Segera Dioptimalkan
Penundaan penerapan bea ekspor yang semula dijadwalkan pada 1 April 2026 dinilai menghilangkan momentum fiskal yang sangat berharga.
Analisa SUSTAIN menunjukkan bahwa negara berpotensi kehilangan tambahan penerimaan hingga Rp62,9 triliun, atau setara dengan 10 persen dari proyeksi defisit APBN 2026.
Urgensi ini semakin nyata di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah yang melambungkan harga minyak dunia.
Sebagai pengimpor minyak, Indonesia terancam defisit hingga Rp200 triliun jika harga minyak mencapai 100 dolar AS per barel.
"Indonesia perlu segera menemukan sumber penerimaan baru yang tidak mencekik masyarakat. Bea ekspor batu bara adalah solusi yang paling memungkinkan untuk segera diimplementasikan," tambah Tata.
Baca juga: Ekspor Perdana Rumput Laut 15 Ton ke India, Bukti Bontang Siap Jadi Pusat Maritim Dunia
SUSTAIN mengusulkan agar sebagian besar hasil pungutan bea ekspor dari Kalimantan Timur pusat ekspor batu bara Indonesia dialokasikan secara spesifik untuk pengembangan energi terbarukan, terutama energi surya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA News Kalimantan Timur