Kamis, 13 NOVEMBER 2025 • 11:39 WIB

Proyek Rp155 Miliar: Bontang–Jeju–KOICA Finalisasi Implementasi Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan

Author

Wali Kota Neni Moerniaeni bersama perwakilan Pemerintah Provinsi Jeju dan KOICA (Korea International Cooperation Agency). (Foto: Hendra/PPID Kota Bontang)
KALTIM -
Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang bergerak cepat menuju target Zero Waste 2029 dengan memfinalisasi rencana implementasi proyek pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan.

Pembahasan tersebut dilakukan dalam kunjungan kerja sama strategis antara Tim Survey KOICA Indonesia Office, delegasi Pemerintah Provinsi Jeju – Korea Selatan, serta perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, Selasa (3/11) malam.

Kunjungan yang berlangsung di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang ini disambut langsung oleh Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni.

Delegasi Jeju yang hadir termasuk Director of Peace Diplomacy Division, Mr. Oh Gyun Kang, dan Director of Resource Circulation Division, Mr. Geun Sik Jeong. Turut hadir pula perwakilan dari KLHK RI, Desi Florita Syahri.

Wali Kota Neni Moerniaeni menyampaikan apresiasi atas komitmen dan dukungan Pemerintah Provinsi Jeju dan KOICA (Korea International Cooperation Agency).

Baca juga: Samarinda Siap Jadi Kota Percontohan, Sampah 1.000 Ton Bakal Disulap Jadi Listrik

Ia menyebut kunjungan ini sebagai langkah penting dalam memperkuat kerja sama strategis di bidang lingkungan hidup.

“Kunjungan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kerja sama antara Pemerintah Kota Bontang, Pemerintah Provinsi Jeju, dan KOICA. Kami berharap kolaborasi ini membawa perubahan nyata dalam sistem pengelolaan sampah dan mempercepat terwujudnya Bontang Zero Waste 2029,” ujar Neni.

Wali Kota menjelaskan, pembahasan kali ini difokuskan pada pre-feasibility survey dan finalisasi rencana implementasi proyek.

Nilai hibah yang diperkirakan akan dikelola Pemkot Bontang sangat besar, mencapai USD 9,3 juta atau sekitar Rp155,9 miliar.

Baca juga: Deklarasi Sekolah Merdeka Sampah, Kota Bontang Wujudkan Generasi Peduli Lingkungan

“Nilai besar ini merupakan amanah yang akan kami kelola dengan penuh tanggung jawab, transparansi, dan akuntabilitas,” tegasnya.

Neni mengungkapkan urgensi proyek ini mengingat usia Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bontang Lestari yang hanya tersisa sekitar 3–4 tahun.

Kebutuhan akan inovasi pengelolaan baru yang lebih efisien dan berwawasan lingkungan menjadi mendesak, apalagi sesuai arahan KLHK, pemerintah daerah tidak lagi diperkenankan memperluas atau membangun TPA baru mulai tahun 2030.

Wali Kota berharap proyek ini akan menjadi solusi jangka panjang bagi Bontang dan memberikan dampak yang lebih luas.

“Proyek ini tidak hanya memperkuat sistem pengelolaan sampah di Bontang, tetapi juga diharapkan menjadi model nasional pengelolaan sampah menjadi energi terbarukan, serta kontribusi nyata terhadap upaya global menekan emisi karbon,” pungkas Neni.

Kunjungan tersebut diakhiri dengan sesi diskusi teknis antara tim KOICA, Pemerintah Provinsi Jeju, dan jajaran Pemkot Bontang untuk menyusun langkah implementatif tahap berikutnya, termasuk pemetaan kebutuhan infrastruktur dan teknologi ramah lingkungan yang akan diterapkan di lapangan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: PPID Kota Bontang

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU