Tangan kreatif warga yang tergabung dalam Kelompok Kayu Bina Karya Baitul Ghofur (BKBG). (Foto: Muhammad Olifiansyah/INDOZONE)
KALTIM - Inovasi pengelolaan lingkungan di Kelurahan Prapatan, Balikpapan, berhasil membuktikan bahwa limbah industri tidak selamanya berakhir di tempat pembuangan.
Melalui sentuhan tangan kreatif warga yang tergabung dalam Kelompok Kayu Bina Karya Baitul Ghofur (BKBG), sisa-sisa kayu operasional kini bertransformasi menjadi Alat Permainan Edukatif (APE) berkualitas tinggi bagi anak-anak.
Langkah ini tidak hanya mengurangi timbulan sampah kayu, tetapi juga memberikan solusi penyediaan sarana belajar yang ramah lingkungan dan ekonomis.
Kelompok BKBG, yang baru terbentuk pada tahun 2025 dengan 16 anggota aktif, kini fokus memproduksi berbagai furnitur rumah tangga hingga alat permainan anak.
Menariknya, produk edukasi buatan warga ini telah disalurkan ke tiga daycare melalui program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya).
Baca juga: Bukan Sekadar Main, Me & Mama Movement Jadi Wadah Parenting Kreatif dan Sehat di Kota Bontang
Ketua Kelompok BKBG, Rantau, menjelaskan bahwa selain manfaat sosial, kreativitas ini juga mendatangkan pundi-pundi rupiah bagi anggotanya.
Hingga Maret 2026, nilai ekonomi yang dihasilkan dari pengolahan limbah ini telah menembus angka Rp25 juta.
"Kami merasa lebih produktif. Limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan, sekarang bisa menjadi produk yang bernilai, bahkan bermanfaat untuk pendidikan anak-anak kita,” ujar Rantau, Senin (30/03/2026).
Program inspiratif ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Kilang Balikpapan.
Kolaborasi ini bertujuan untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat berbasis pemanfaatan limbah (circular economy).
Baca juga: Euforia Piala Dunia 2026: Titik Nobar di Kaltim Siap Disulap Jadi Pusat Belanja Produk Kreatif UMKM
Area Manager Communication, Relations & CSR PT PPN Kilang Balikpapan, Dodi Yapsenang, menyebut bahwa inisiatif ini merupakan wujud nyata kepedulian perusahaan terhadap lingkungan dan ekonomi lokal.
“Program ini mendorong pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna sekaligus memperkuat struktur ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional kami,” jelas Dodi.
Meskipun baru berjalan satu tahun, potensi pengembangan produk APE dan furnitur dari limbah kayu ini dinilai sangat menjanjikan.
Dengan dukungan pembinaan berkelanjutan, Kelompok BKBG diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran hingga ke luar wilayah Balikpapan.
Kisah warga Prapatan ini menjadi bukti nyata bahwa limbah kayu, jika dikelola dengan visi yang tepat, dapat menjadi instrumen pemberdayaan yang kuat, dari sampah menjadi pundi rupiah, dan dari sisa produksi menjadi alat edukasi bagi generasi masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung