Pesut Mahakam. (Foto: animalium.id)
KALTIM -Keberadaan Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) kini bukan sekadar ikon daerah yang menghiasi tugu kota, melainkan sebuah peringatan darurat bagi ekosistem Kalimantan Timur.
Mamalia air tawar yang menjadi kebanggaan Benua Etam ini sedang berjuang di ambang kepunahan dengan populasi yang kian menyusut drastis, di mana data terbaru memperkirakan jumlah yang tersisa hanya berada di angka kurang dari 100 ekor.
Baca juga: Menjelajahi Jantung Hijau Kaltim: Mengenal 5 Primata Asli Penghuni Hutan Wehea hingga Mahakam
Statusnya yang masuk dalam kategori sangat terancam punah (Critically Endangered) menjadikan setiap upaya perlindungan habitat sebagai misi penyelamatan warisan alam yang mendesak.
Ancaman terbesar datang dari polusi sampah plastik yang kian mencemari aliran sungai terbesar di Kalimantan Timur tersebut.
Keberadaan limbah ini tidak hanya merusak estetika sungai, tetapi secara langsung mengancam keberlangsungan hidup mamalia air tawar yang populasinya sudah sangat rentan.
Baca juga: Begini Cara Polres Ringkus 4 Tersangka Curanmor dalam Operasi Jaran Mahakam
Tantangan berat bagi kelangsungan hidup pesut muncul dari meningkatnya aktivitas manusia dan limbah domestik yang bermuara di Sungai Mahakam.
Sampah plastik berisiko tinggi termakan oleh pesut atau menjebak mereka dalam tumpukan limbah yang hanyut.
Selain masalah sampah, kebisingan dari mesin kapal ponton batu bara yang melintas setiap hari diketahui sangat mengganggu sistem sonar pesut, yang merupakan alat navigasi dan komunikasi utama mereka di dalam air.
Kondisi lingkungan yang memburuk memaksa mamalia pintar tersebut bermigrasi ke wilayah hulu yang lebih sempit.
Dampaknya, ruang gerak mereka semakin terbatas dan mereka menjadi lebih rawan terhadap kecelakaan atau terjaring alat tangkap nelayan secara tidak sengaja.
Para ahli lingkungan menekankan bahwa kehadiran pesut adalah indikator utama kesehatan Sungai Mahakam, sehingga menyelamatkan spesies ini berarti juga menjaga kelestarian ekosistem sungai secara keseluruhan.
Baca juga: Polda Kaltim Ungkap 224 Kasus Narkoba, Sita Lebih dari 5 Kg Sabu dalam Operasi Antik Mahakam 2025
Melalui penguatan kawasan konservasi dan edukasi kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai, diharapkan angka kematian pesut dapat ditekan secara signifikan.
Kolaborasi antara pemerintah, peneliti dari Yayasan RASI, dan komunitas lokal menjadi kunci utama agar mamalia cerdas ini tetap lestari.
Misi penyelamatan ini adalah tanggung jawab bersama guna memastikan bahwa Pesut Mahakam tidak hanya berakhir menjadi cerita dalam buku dongeng bagi generasi mendatang, melainkan tetap menjadi penghuni abadi yang menjaga denyut nadi perairan Kalimantan Timur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber