Rabu, 11 FEBRUARI 2026 • 08:20 WIB

Layanan Darurat 112 Jadi Sasaran Silent Call, Diskominfo Balikpapan: Ini Bukan Mainan!

Author

Ilustrasi layanan darurat 112 di Kota Balikpapan. (Foto: Angnaont/shutterstock.com)
KALTIM -
Integritas layanan darurat 112 di Kota Balikpapan kini tengah diuji oleh perilaku tidak bertanggung jawab sebagian oknum warga.

Alih-alih menjadi garda terdepan penyelamatan, saluran ini justru terus-menerus dibombardir oleh fenomena silent call atau telepon tanpa suara yang sangat mengganggu operasional petugas di lapangan.

Gangguan Masif di Jalur Penyelamat

Kondisi ini terungkap setelah Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Balikpapan melakukan evaluasi terhadap trafik panggilan yang masuk.

Hasilnya sangat mengejutkan karena lebih dari separuh panggilan yang diterima operator setiap harinya bukanlah laporan darurat yang nyata.

Baca juga: Geger! Sudah Menetap 70 Tahun di Tanah Sendiri, Kakak-Beradik di Balikpapan Malah Diseret ke Polisi

Perilaku ini dinilai sangat berbahaya karena dapat menutup akses bagi warga lain yang sedang berada dalam kondisi hidup dan mati.

Kepala Diskominfo Balikpapan, Erriansyah Haryono, mengungkapkan bahwa sebagian besar penelepon masuk ke sistem tanpa memberikan informasi apa pun yang jelas.

"Sebagian hanya menyapa lalu diam, ada juga yang langsung memutus sambungan. Panggilan yang benar-benar berisi laporan kejadian nyata hanya sekitar 40 persen,” kata Erriansyah, Sabtu (7/2/2026).

Memangkas Birokrasi Demi Kecepatan Penanganan

Padahal, efisiensi layanan 112 telah dirancang sedemikian rupa untuk menjadi jalur cepat komunikasi warga dengan pemerintah.

Berbagai laporan penting mulai dari musibah banjir, pohon tumbang, pemadaman listrik, hingga evakuasi hewan liar seperti ular, seharusnya bisa ditangani dalam hitungan menit berkat sistem koordinasi langsung dengan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Baca juga: Inilah Mitos Hantu Kelaparan yang Menghantui Jalur Samarinda - Balikpapan

Sistem ini memiliki peran vital untuk menghilangkan sekat birokrasi yang kaku sehingga kehadiran petugas di lokasi bencana bisa lebih cepat.

Mengenai mekanisme tersebut, Erriansyah menjelaskan bahwa timnya bekerja dengan prinsip kegawatdaruratan yang tinggi.

"Begitu laporan diterima, langsung kami teruskan ke OPD yang berwenang. Prinsipnya adalah mempercepat kehadiran pemerintah saat masyarakat membutuhkan bantuan,” ujarnya.

Imbauan untuk Kesadaran Bersama

Namun, efektivitas sistem yang canggih ini tetap bergantung pada kedewasaan penggunanya.

Tingginya angka telepon iseng tidak hanya menguras tenaga operator, tetapi juga menciptakan risiko tertundanya penanganan laporan darurat yang bersifat mendesak.

Erriansyah mengingatkan bahwa layanan ini merupakan manifestasi kehadiran negara di tengah situasi kritis warga, sehingga penggunaannya tidak boleh dianggap remeh atau dijadikan bahan candaan.

Baca juga: Kutim Juara Serap Tenaga Kerja, Balikpapan Pimpin Nilai Investasi Terbesar di Kaltim

Menurutnya, fenomena telepon iseng ini merupakan cermin dari masih rendahnya kepedulian sebagian masyarakat terhadap fungsi strategis nomor darurat.

Ia menegaskan bahwa setiap detik di jalur 112 sangat berharga bagi mereka yang membutuhkan.

“Layanan ini bergantung pada kepedulian bersama. Ketika digunakan secara bijak, 112 bisa menjadi penyelamat bagi banyak orang,” tegas Erriansyah menutup keterangannya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU