Buku terbaru Syafruddin Pernyata, “Kisah-kisah Samarinda Tempo Dulu”. (Foto: Ahmad Rifandi/ANTARA)
KALTIM - Sebuah kota yang kehilangan ingatannya hanyalah tumpukan semen dan aspal tanpa nyawa.
Di tengah deru pembangunan Kalimantan Timur yang kini menjadi sorotan dunia karena Ibu Kota Nusantara (IKN), Samarinda berisiko mengalami "amnesia" terhadap jati dirinya sendiri.
Melalui buku terbaru Syafruddin Pernyata, “Kisah-kisah Samarinda Tempo Dulu”, kita diajak menyusuri sejarah singkat kota ini agar tak tersesat di masa depan.
Lebih dari setengah abad lalu, detak jantung Samarinda ada di permukaan air.
Sejarah singkat kota ini adalah narasi tentang tradisi berbasis sungai, di mana mesin klotok bersahut-sahutan dan transportasi air adalah urat nadi utama.
Baca juga: Sisi Mistis Smanda Bontang yang Melegenda di Kalangan Pelajar
Kehadiran jembatan panjang yang kini menghubungkan Samarinda Kota dan Seberang dahulu hanyalah angan-angan.
Transformasi ini terekam jelas dalam ingatan kolektif warga, dari kota yang merayap dengan Jeep Willys di jalanan sempit, kini berubah menjadi rimba beton dengan hotel bertingkat dan hilir mudik ponton batu bara yang tak henti-hentinya mengeruk kekayaan bumi.
Sejarah singkat Samarinda tidak bisa dilepaskan dari eksploitasi alamnya.
Syafruddin membagi transisi ekonomi kota ini ke dalam dua era besar:
Baca juga: Inilah Fakta Sejarah Bontang yang Membuatnya Jadi Kota Termakmur
Melawan amnesia kota berarti mengingat kembali detail-detail kecil:
Saat ini, Samarinda berdiri di ambang perubahan besar sebagai kota penyangga IKN.
Prediksi populasi yang akan menembus 1 juta jiwa dalam sepuluh tahun ke depan membawa tantangan berat bagi karakter asli kota.
Buku setebal 176 halaman ini berfungsi sebagai "sekoci" sekaligus "jangkar".
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA News Kalimantan Timur