Rabu, 15 APRIL 2026 • 12:57 WIB

Mengenal 5 Kesultanan Besar Kalimantan

Author

Keraton Sambaliung atau Istana Sambaliung di kabupaten Berau provinsi Kalimantan Timur. (Foto: disbudparberau.com)
KALTIM -
Pulau Kalimantan memiliki peran yang sangat vital dalam peta peradaban awal di Indonesia.

Dimulai dari temuan Prasasti Yupa di abad ke-5 yang menjadi bukti eksistensi Kerajaan Kutai Martadipura, wilayah ini terus berkembang hingga melahirkan berbagai kesultanan besar.

Keberadaan kesultanan-kesultanan ini tidak hanya menjadi pilar sejarah, tetapi juga membentuk identitas budaya Nusantara yang masih sangat terasa hingga hari ini di seluruh penjuru pulau.

Baca juga: Menelusuri Sejarah Kota di Kalimantan Timur: Dari Kerajaan Tertua hingga Kelahiran Ibu Kota Nusantara

Kesultanan Sambas: Strategi Muara Ulakkan

Kesultanan Sambas di Kalimantan Barat mencatatkan sejarah penting saat pusat pemerintahannya dipindahkan ke Muara Ulakkan pada tahun 1685.

Lokasi ini dipilih karena letaknya yang sangat strategis di titik pertemuan tiga sungai besar.

Resmi menjadi kerajaan Islam pada 1671 di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad Syafiuddin (Raden Sulaiman), kesultanan ini menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama sebelum akhirnya runtuh akibat pendudukan Jepang pada 1942.

Baca juga: Jaga Marwah Kesultanan, Begini Hubungan Erat Asal-usul Nama Samarinda dengan Sejarah Kutai Kartanegara

Kesultanan Banjar: Simbol Perlawanan Rakyat

Berdiri sejak tahun 1520, Kesultanan Banjar di bawah pimpinan Sultan Suriansyah sempat menjadi kekuatan dominan yang wilayahnya mencakup Kalimantan Selatan hingga pesisir timur pulau.

Sejarah Banjar adalah sejarah perlawanan, melalui semangat Pangeran Antasari, rakyat Banjar memberikan perlawanan sengit terhadap kolonialisme Belanda.

Meski secara resmi dihapus oleh Belanda pada 1860, semangat perjuangannya tetap abadi dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Baca juga: Asal-usul Nama Tenggarong: Jejak Rumah Raja dan Strategi Sultan Aji Imbut Membuang Sial

Kesultanan Berau: Sambaliung dan Gunung Tabur

Kesultanan Berau yang berdiri sejak abad ke-14 menyimpan kisah tentang kekuatan yang terpecah namun akhirnya kembali menyatu.

Akibat politik pecah belah Belanda, kesultanan ini terbagi menjadi Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur.

Setelah melalui dinamika politik kolonial yang panjang, kedua wilayah ini akhirnya bersatu kembali dalam wadah administratif Kabupaten Berau pada tahun 1960, menjaga warisan budaya mereka tetap lestari.

Baca juga: Mengenal Adji Muhammad Arifin, Penerus Takhta Sultan Salehuddin II di Kutai Kartanegara

Kesultanan Kutai Kartanegara: Evolusi dari Hindu ke Islam

Kutai Kartanegara adalah contoh unik transformasi besar sebuah kerajaan.

Bermula dari kerajaan Hindu pada abad ke-14, wilayah ini berkembang menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura pada 1635 setelah melalui proses asimilasi dan penaklukan.

Dipengaruhi oleh ulama-ulama besar dari Minangkabau dan Makassar, kesultanan ini akhirnya menetapkan Tenggarong sebagai pusat pemerintahan, yang kini menjadi ikon sejarah terpenting di Kalimantan Timur.

Baca juga: Dari Diplomat Hingga Sultan Pemberani, Inilah 5 Tokoh Kaltim yang Mengukir Sejarah Benua Etam

Kesultanan Bulungan: Penguasa Pesisir Kalimantan Utara

Didirikan pada 1731, Kesultanan Bulungan pernah mencapai masa keemasan sebagai penguasa maritim yang wilayah kekuasaannya menjangkau hingga pesisir Malaysia dan Filipina.

Di bawah Sultan Amril Mukminin, Bulungan menjadi wilayah yang kaya akan sumber daya alam dan memiliki sistem keamanan yang tangguh.

Meski berakhir tragis pada pertengahan abad ke-20 akibat konflik geopolitik, jejak kejayaannya tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Kalimantan Utara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU