Rabu, 15 APRIL 2026 • 13:27 WIB

Menguak Rahasia di Balik Sakralnya Upacara Adat Terbesar Kaltim

Author

Upacara adat Erau. (Foto: pariwisataindonesia.id)
KALTIM -
Di bawah langit Kota Raja, Tenggarong, suasana berubah menjadi khidmat saat suara tabuhan gamelan mulai menggema.

Upacara adat Erau kembali digelar, membawa ribuan pasang mata menyaksikan tradisi tertua dan terbesar di Nusantara yang masih terjaga keasliannya.

Festival ini bukan sekadar pesta rakyat, melainkan sebuah gerbang menuju masa lalu yang mengungkap betapa kuatnya akar budaya masyarakat Kutai Kartanegara di tengah gempuran modernisasi.

Baca juga: Erau Guntung 2025 Jadi Pusat Strategi Digital Branding UMKM

Filosofi "Eroh" dan Manifestasi Rasa Syukur

Bagi masyarakat setempat, Erau berasal dari kata "Eroh" yang berarti keramaian sukacita.

Namun, di balik keriuhan tersebut, tersimpan makna filosofis yang sangat dalam.

Upacara adat ini dipimpin langsung oleh Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura sebagai bentuk syukur atas keberlimpahan hasil bumi dan permohonan perlindungan agar negeri terhindar dari marabahaya.

Keterlibatan tetua adat dalam setiap prosesi menjadi kunci utama terjaganya kesakralan ritual yang telah ada sejak berabad-abad silam ini.

Baca juga: Siap Jadi Magnet Wisata! Festival Budaya Erau Pelas Benua Resmi Dibuka, Prosesi Naik Ayun Dinanti

Belimbur: Ritual Penyucian di Sungai Mahakam

Salah satu rahasia kekuatan magis Erau terletak pada ritual "Belimbur".

Puncak acara ini mewajibkan setiap orang untuk saling menyiramkan air dari Sungai Mahakam.

Secara simbolis, siraman air ini dipercaya mampu meluruhkan pengaruh negatif dan mensucikan kembali batin masyarakat.

Di sini, air bukan sekadar materi cair, melainkan perantara doa yang menyatukan seluruh elemen masyarakat dalam harmoni dan kesederhanaan.

Baca juga: Upacara Bendera di Gunung Sampah, Aksi Unik Pemulung Peringati HUT RI ke-80

Simbolisme Naga dan Penghormatan Leluhur

Keunikan Erau semakin tampak pada prosesi "Mengulur Naga". Replika naga berukuran raksasa diarak menuju sungai sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang diyakini bersemayam di alam air.

Elemen wajib lainnya seperti penggunaan baju Miskat (pakaian adat Kutai) dan penyajian sesajen Puncak Rasul, mempertegas bahwa setiap langkah dalam upacara adat ini adalah bentuk komunikasi spiritual yang sarat akan harapan-harapan baik bagi masa depan daerah.

Baca juga: Jaga Marwah Kesultanan, Begini Hubungan Erat Asal-usul Nama Samarinda dengan Sejarah Kutai Kartanegara

Menjaga Integritas Budaya di Era Modern

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara bersama pihak Kesultanan terus berupaya memastikan bahwa Erau tetap menjadi barometer pariwisata budaya yang edukatif.

Dengan mempertahankan setiap detail ritual tanpa mengurangi nilai sakralnya, Erau berhasil membuktikan bahwa tradisi kuno bisa tetap relevan dan menjadi identitas yang membanggakan bagi generasi muda.

Upacara adat ini menjadi pengingat abadi bahwa kemajuan sebuah daerah tidak boleh melupakan jati diri dan warisan para pendahulunya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU