Keraton Sambaliung atau Istana Sambaliung di kabupaten Berau provinsi Kalimantan Timur. (Foto: disbudparberau.com)
KALTIM - Pulau Kalimantan memiliki peran yang sangat vital dalam peta peradaban awal di Indonesia.
Dimulai dari temuan Prasasti Yupa di abad ke-5 yang menjadi bukti eksistensi Kerajaan Kutai Martadipura, wilayah ini terus berkembang hingga melahirkan berbagai kesultanan besar.
Keberadaan kesultanan-kesultanan ini tidak hanya menjadi pilar sejarah, tetapi juga membentuk identitas budaya Nusantara yang masih sangat terasa hingga hari ini di seluruh penjuru pulau.
Kesultanan Sambas di Kalimantan Barat mencatatkan sejarah penting saat pusat pemerintahannya dipindahkan ke Muara Ulakkan pada tahun 1685.
Lokasi ini dipilih karena letaknya yang sangat strategis di titik pertemuan tiga sungai besar.
Resmi menjadi kerajaan Islam pada 1671 di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad Syafiuddin (Raden Sulaiman), kesultanan ini menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama sebelum akhirnya runtuh akibat pendudukan Jepang pada 1942.
Berdiri sejak tahun 1520, Kesultanan Banjar di bawah pimpinan Sultan Suriansyah sempat menjadi kekuatan dominan yang wilayahnya mencakup Kalimantan Selatan hingga pesisir timur pulau.
Sejarah Banjar adalah sejarah perlawanan, melalui semangat Pangeran Antasari, rakyat Banjar memberikan perlawanan sengit terhadap kolonialisme Belanda.
Meski secara resmi dihapus oleh Belanda pada 1860, semangat perjuangannya tetap abadi dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Baca juga: Asal-usul Nama Tenggarong: Jejak Rumah Raja dan Strategi Sultan Aji Imbut Membuang Sial
Kesultanan Berau yang berdiri sejak abad ke-14 menyimpan kisah tentang kekuatan yang terpecah namun akhirnya kembali menyatu.
Akibat politik pecah belah Belanda, kesultanan ini terbagi menjadi Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur.
Setelah melalui dinamika politik kolonial yang panjang, kedua wilayah ini akhirnya bersatu kembali dalam wadah administratif Kabupaten Berau pada tahun 1960, menjaga warisan budaya mereka tetap lestari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber